Masih Jauh Panggang Dari Api
Selasa, 10 Juli 2012 , 08:08:00 WIB
![]() ILUSTRASI, KEMISKINAN DI IBUKOTA |
RMOL. Hingga Maret 2012, tak ada penurunan berarti dari jumlah penduduk miskin di ibukota.
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI menyebutkan, jumlah penduduk ibukota yang berada di bawah garis kemiskinan pada Maret 2012 menurun sangat tipis. Catatan ini pun membuat pengentasan kemiskinan di DKI Jakarta masih jauh panggang dari api.
Kepala BPS DKI Jakarta Nyoto Widodo mengatakan, warga yang tergolong miskin pada Maret 2012 sebanyak 363.200 orang, menurun sebanyak 220 orang atau 0,05 persen dari jumlah pada Maret 2011 sebesar 363.420 orang. “Persentase jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta sekitar 3,69 persen dari total jumlah penduduk Jakarta,” katanya.
Dikatakan Widodo, penurunan tersebut disebabkan garis kemiskinan tahun ini sebesar Rp 379.052 per kapita per bulan, yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 355.480. Peningkatan garis kemiskinan ini berakibat pada menurunnya ketimpangan pengeluaran penduduk miskin relatif, yaitu dari 0,15 menjadi 0,13.
“Kesejahteraan masyarakat Jakarta sudah semakin baik. Memang menurun sangat tipis, karena sangat sulit mengurangi jumlah penduduk miskin secara besar-besaran dalam jangka pendek. Untuk mengurangi warga miskin harus dilakukan bertahap dalam waktu panjang,” ujarnya.
Garis kemiskinan banyak ditentukan peranan komoditi makanan sebesar 64,59 persen, yang jauh lebih besar dibandingkan dengan komoditi bukan makanan sebesar 35,41 persen. Adapun komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras yang memberi pengaruh sampai 36,55 persen.
Setiap kebijakan yang diambil pemerintah akan sangat berpengaruh kepada banyak sedikitnya jumlah penduduk miskin di Jakarta. Terlebih lagi pada kebijakan yang mempengaruhi kenaikan harga beras. “Karena itu, stabilitas harga sangat perlu diperhatikan. Sebab, setiap kenaikan harga bensin atau beras, bisa menambah jumlah penduduk miskin,” ungkapnya.
Kepala Bidang Statistik Sosial BPS DKI Jakarta Sri Santo Budi menyatakan, untuk menurunkan jumlah penduduk miskin cukup sulit karena sudah menjadi suatu budaya. Meski demikian, jumlahnya tetap bisa dikurangi. “Harusnya memang bisa dikurangi, tapi secara bertahap,” ujarnya.
Selain beras, komoditi makanan lainnya yang turut memengaruhi tingkat kemiskinan adalah rokok kretek filter sebanyak 17,38 persen, daging 6,34 persen, dan telur 6,19 persen.
Sedangkan pada komoditi bukan makanan, dipengaruhi oleh perumahan sebesar 44,21 persen, pendidikan 10,50 persen, angkutan 10,18 persen, perlengkapan mandi 5,05 persen, dan bensin 4,90 persen.
Asisten Kesejahteraan Masyarakat DKI Jakarta Mara Oloan Siregar menuturkan, untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di Jakarta, pemerintah harus lebih fokus dalam penanganannya agar tepat sasaran.
Foke: Kami Terus Berusaha
Meski pelan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengaku terus berupaya meningkatkan kesejahteraan warga maupun pegawainya. Bahkan, hasil kinerja Pemprov DKI beberapa tahun terakhir berdampak pada penurunan angka kemiskinan maupun pengangguran.
Tak hanya itu, anggaran di sektor pendidikan, index pembangunan manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi maupun kesehatan warga Jakarta semakin meningkat.
Bahkan, pendapatan perkapita warga Jakarta saat ini di atas 10 ribu dolar AS per tahun. Artinya, tingkat kesejahteraan warga Jakarta tergolonhg jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, angka index pembangunan manusia di DKI Jakarta berdasarkan cerminan pendidikan, perekonomian, dan kesehatan masyarakat merupakan yang paling tinggi di Indonesia, yaitu 78 dari skala 100. Jumlah itu jauh dari rata-rata nasional yang hanya 72,6 dalam skala 100.
Meski begitu, lanjut Foke, pihaknya tetap masih prihatin dengan banyaknya warga miskin di Jakarta. Untuk itu, ujarnya lagi, Pemprov DKI Jakarta harus bekerja lebih keras lagi memberantas kemiskinan di Jakarta.
Angka kemiskinan di Jakarta tahun ini, jelas Foke, paling rendah di Indonesia, yaitu 3,64 persen dari total populasi Indonesia. Sedangkan pada tingkat rasional angka kemiskinan masih 12 persen.
“Kita boleh bangga, meski masih banyak yang miskin, tapi kita berhasil menurunkan angka kemiskinan di Jakarta,” katanya. [Harian Rakyat Merdeka]











