Rakyat Merdeka Online

Home   

Share |
Warga Minta, Tuntaskan Masalah Macet & Banjir
Siapapun Gubernur Dan Wagub DKI Yang Terpilih
Rabu, 11 Juli 2012 , 08:16:00 WIB

ILUSTRASI, KEMACETAN DI IBUKOTA
  

RMOL. Siapapun gubernur dan wakil gubernur (wagub) yang nantinya terpilih, warga berharap, mereka harus mampu mengatasi keluhan utama warga. Yaitu, kemacetan lalulintas dan banjir.

Inilah di antara hasil jajak pen­­dapat Cirus Surveyors ten­tang prio­ritas penanganan masalah DKI Jakarta. Sebanyak 42,11 per­sen responden minta, pe­merintah mengutamakan pe­nyelesaian kemacetan lalulintas. Sisanya, 22,68 persen menyo­roti penang­gulangan banjir.

“Sedangkan masalah lain se­perti pencegahan tindak keja­ha­tan sebanyak 17,42 persen, pe­nambahan dan perbai­kan fasili­tas umum 8,40 persen, pe­nge­lolaan sampah 4,39 persen, perbaikan pelayanan adminis­trasi 3,13 per­sen dan penam­bahan fasilitas pejalan kaki se­banyak 1,88 per­sen,” papar Di­rektur Eksekutif Cirus Surve­yors Andrinof Chaniago.

Menurut hasil survei, faktor ter­besar pemicu kemacetan ada­lah pe­ri­laku pengemudi angkut­an umum yang tidak disiplin. “Se­la­ma ada angkot, maka ja­ngan berharap kita bebas dari ma­cet,” sebutnya.

Di antara titik kemacetan yang juga sering terjadi, menu­rut An­drinof, adalah di dekat pintu ma­suk dan keluar jalan tol. Sebagai solusi fak­tor kema­cetan ini, An­drinof me­nilai, per­lunya peme­rintah menye­diakan lahan yang ideal dekat pintu masuk atau ke­luar tol.

Terlepas dari itu, parahnya kemacetan di Jakarta, me­nurut­nya, disebabkan besarnya po­pu­lasi angkutan umum. Di Ja­karta, jum­lah taksi saja sudah men­capai 24.324 unit. Bajaj dan be­mo se­kitar 15.000 unit. Lalu, ada Mi­krolet, Angkutan Peng­ganti Bemo (APB), dan Kope­rasi Wa­ha­na Kalpika (KWK) dengan jumlah 12.984 unit.

Besarnya populasi angkutan umum, lanjutnya, bisa terjadi ka­rena adanya faktor birokrasi. Sebab, sebenarnya pemerintah bisa saja mengurangi izin trayek. Tapi di lain pihak, pemerintah juga harus mengantisipasi pe­ngangguran dengan menye­diakan lapangan pekerjaan.

Pengamat transportasi dari Universitas Soegijapranata Se­marang Djoko Setijowarno ber­harap, Gubernur dan Wakil Gu­bernur DKI Jakarta terpilih men­da­tang mampu mengatasi persoa­l­an transportasi di ibukota ini.

Salah satu harapan Djoko ada­lah fasilitas Transjakarta dapat dinikmati oleh warga Jakarta yang tidak mampu. “Tak hanya sebatas janji dan wacana, tapi perlu kerja cerdas untuk mewu­judkannya setelah terpilih nanti,” katanya.

Djoko menyebutkan, gubernur dan wagub terpilih harus dapat mengatasi persoalan transporta­si di Jakarta. Bila hal ini bisa di­wu­judkan, berarti setengah uru­san ibukota telah dituntaskan.

“Pasalnya masalah transportasi dihadapi setiap hari, sehingga jika tak lancar, pasti berpengaruh pada pengembangan perekono­mian secara makro,” paparnya. [Harian Rakyat Merdeka]

JLNT Rampung 90 Persen

Salah satu penyelesaian ke­macetan yang kini sedang di­kerjakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta adalah pembangunan Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari-Blok M. Saat ini, proyek tersebut te­lah rampung 90 persen.

Menurut Gubernur DKI Ja­karta Fauzi Bowo, proyek ini me­rupakan salah satu contoh penyelesaian kemacetan yang disebabkan volume kendaraan yang cukup tinggi. Untuk itu, diterapkan sistem split antara local traffic dengan true traffic melalui jalan layang.

Dengan demikian diharap­kan, simpul-simpul atau cros­sing yang ada di sepanjang Ja­lan Antasari dan Jalan Prapanca menuju Blok M bisa berkurang.

Dalam perjalanannya, jelas Foke, pem­bangunan mega pro­yek ini sem­pat terkendala oleh pem­bebasan lahan di kawasan Cipe­te. Itu terjadi karena ada­nya per­bedaan dasar hukum mengenai pro­ses pembebasan lahan.

Meski demikian, dia kemba­li me­negaskan, jalan la­yang se­pan­jang 5,2 kilo­meter ini di­pasti­kan sudah dapat ber­ope­rasi akhir tahun ini.

Dia menegaskan, dari lima paket JLNT Antasari-Blok M, saat ini telah rampung 90 persen. Hampir semua paket penger­jaan­nya dikerjakan tepat waktu. “Saya yakin ini (batas waktu-red) bisa dikejar,” ujar Foke.

JLNT yang juga dilengkapi dengan underpass ini dibangun dengan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun. Sedangkan untuk pembebasan lahan kurang lebih seluas 1.000 meter persegi di kawasan Cipete dianggarkan dana senilai Rp 20 hingga Rp 30 miliar.   [Harian Rakyat Merdeka]


Baca juga:
Pengentasan Kemiskinan Di Ibukota Masih Lelet
BLU Transjakarta Lebih Oke Dijadikan BUMD Saja
Layanan Kesehatan Warga Kok Dipersulit & Bertele-tele
Waduh, Ada Yang Jadi Calo SKTM...
Tarif Kereta Commuter Line Belum Layak Naik


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Wanita Ini Habiskan Rp 300 Juta untuk Terlihat Seperti Kim Kardashian

Tak dapat menahan keinginan terlihat seperti selebritis Kim Kardashian, se ...

 

Lea Michele, Kencan Vulgar Sama Pacar Baru

Lea Michele tak ragu lagi untuk bermesraan dengan kekasih barunya, Matthew ...

 

Behati Prinsloo, Penakluk Adam Levine

Karier playboy Adam Le­vine terpaksa berhenti. Vokalis Maroon 5 ini telah ...

 

Anne J. Cotto, Hamil Duluan Jumat Ini Nikah

Calon suami kerja di prusahaan kontraktor pertambangan. Lebih muda tujuh t ...

 

Nabille Benattia, Resmi Jadi WAGs Inter

Model sexy berdarah Prancis-Itali ini resmi jadi WAGs baru Inter Milan set ...

 

Rachel Maryam, Yakin Hari Ini Nggak Rusuh

Hari ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumum­kan hasil akhir penghi ...





Berita Populer

Ketika Pembagian Sedekah di Rumah JK Mencabut Nyawa
Anak 11 Tahun Tewas Saat Pembagian Sedekah di Rumah JK
Ayah Hadika Ikhlas, Kakek Sudah Berfirasat Buruk