Rakyat Merdeka Online

Home   

Share |

Ruang Terbuka Hijau DKI Masih Kurang 20 Persen
Bisa Jadi Tempat Edukasi & Evakuasi Bencana Alam
Senin, 16 Juli 2012 , 09:19:00 WIB

RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)
  

RMOL. Kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) tidak hanya diperuntukkan sebagai fungsi keindahan. RTH juga dapat berfungsi sebagai tempat edukasi, ekologis dan fungsi evakuasi jika ada bencana. Sayang, DKI Jakarta masih kekurangan sekitar 20 persen RTH.

Hal itu ditegaskan pengamat perkotaan Nirwono Joga. Dia mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menga­dakan taman atau RTH yang juga memiliki fungsi lainnya.

Menurutnya, terdapat delapan unsur agar RTH sesuai fungsi-fungsi tersebut. Yakni, unsur pe­rencanaan dan desain hijau, RTH, transportasi hijau, bangu­nan hi­jau, pengairan hijau, ada­nya pe­ngolahan sampah, hemat energi, dan komunitas hijau.

Konsep tersebut sudah sering ditawarkan kepada pemerintah kota, tak hanya di Jakarta, tapi di kota-kota lain di Indonesia.

“Na­mun rata-rata mereka tidak mau berkomitmen melakukan delapan unsur itu secara keselu­ruhan,” sesal Nirwono.

Dia mengungkapkan, di wila­yah Jakarta saat ini keberadaan RTH baru terpenuhi 10 hingga 13 persen dari total luas wilayah Ja­karta. Padahal, lanjutnya, jika sesuai Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, luas RTH harus mencapai 30 persen dari total luas kota.

“Jumlah itu jauh dari seha­rusnya. Tidak heran ka­lau kota-kota di Indonesia banyak yang banjir dan polusi udaranya me­ning­kat,” ujar Nirwono.

Pengamat perkotaan lainnya, Yayat Supriatna mengatakan, ke­butuhan RTH di kota-kota be­sar sudah sangat mendesak. Dia men­contohkan, minimnya RTH akan menimbulkan bencana.

“Paling kecil bencana­nya sudah pasti banjir, karena ruang serap air sudah berkurang,” katanya.

Terlepas dari semua jenis mu­sibah banjir, satu hal yang men­jadi catatan penting untuk men­jadi perhatian, menurut Yayat ada­lah, daya dukung lingkung­an di perkotaan saat ini sudah me­lewati ambang batas. Hampir se­mua sumber daya hijau kota su­dah tergerus.

Dari hasil eva­luasi lima ta­hunan terhadap ren­cana kota 2010, da­lam waktu hampir lima tahun (2000-2004) Jakarta sudah kehilangan sekitar 450 hektare RTH. Jika ditotal dengan bentuk pelanggaran koe­fisiensi dasar bangunan (KDB) di daerah re­sa­pan air, total hilangnya men­capai 4.000 hektare.

“Di wilayah hulunya Sungai Cili­wung, sejak 1972 hingga 2005 telah terjadi alih fungsi la­han. Kita kehilangan 30,3 per­sen areal ve­getasi hutan dan ke­hi­langan 11,9 persen areal ve­getasi kebun cam­puran. Aki­bat­nya, hampir 5.000 mm per tahun air hujan me­lim­pah masuk ke sungai dan akhirnya meng­ge­nangi Ja­karta dan sekitar­nya,” jelas Yayat.

Ketidakmampuan Sungai Ci­liwung menampung limpahan air disebabkan terjadinya ba­nyak penyempitan lebar sungai dari 65 meter tinggal 15 hingga 20 meter. Sedangkan tingkat ke­dalamannya hanya berkisar 1 hingga 2 meter, dari kedalam­an normal yang seharusnya men­capai 5 meter.

“Bencana banjir yang selalu mengancam ibukota mem­­bukti­kan kalau pemerintah gagal mem­pertahankan kondisi ling­­kungan. Lanskap kota atau wila­yah telah berubah secara me­rata di seluruh wilayah Jabo­deta­bek,” urai Yayat.

Sudah Nambah 22,8 Hektare

Pemprov DKI Jakarta me­ngaku bukannya tanpa usaha. Berbagai upaya terus dilakukan Dinas Pertamanan dan Pema­ka­man DKI Jakarta demi me­me­nuhi target luas ruang ter­buka hijau (RTH). Salah satu­nya, dengan mengupayakan lahan permukiman warga untuk di­jadikan RTH.

“Akhir tahun ini baru men­capai 9,85 persen dari total luas wilayah Jakarta. Kita coba pe­nuhi target penambahan RTH seluas 22,8 hektare,” ujar Ke­pala Dinas Pertamanan dan Pe­makaman DKI Jakarta Ca­tha­rina Suryowati.

Untuk itu, lanjut Catharina, pihaknya tengah mengupaya­kan mencari lahan yang ber­ada di tengah-tengah permuki­man war­ga untuk dijadikan RTH. Nan­­tinya, luas lahan ti­dak di­ten­tukan secara baku, tapi ha­nya disesuaikan dengan lokasi atau daerahnya.

“Kalau bisa mi­nimal 100 me­ter persegi. Itu sudah ideal jika berada di daerah permu­kiman padat penduduk,” ka­tanya.

Nantinya taman yang diba­ngun akan dibuat agar bisa men­jadi sarana interaktif warga. Se­hingga warga, ter­utama anak-anak-anak bisa memiliki sarana bermain dan berinteraksi sosial.

“Taman yang agak luas bisa dibuat jogging track, mainan anak-anak dan kalau me­mung­kinkan bisa dibuat sarana olah­raga,” ujar Chatarina.

Sejauh ini, masih menurut Chatarina, pihaknya menar­get­kan pencarian lahan di Ja­karta Pusat, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Meski begitu, pihaknya belum memiliki ang­garan khu­sus untuk mem­be­baskan lahan-lahan tersebut. Sebab, belum ada data pasti jumlah lahan yang akan dibebaskan. [Harian Rakyat Merdeka]


Baca juga:
Masih Gratis, Mau Taksi Ferrari atau Porsche?
Pengelolaan APBD DKI Dinilai Masih Letoy...
Anggaran Perubahan DKI Jadi Rp 41 T
Jakarta Ngaca Dong Sama Negeri Singa
Pemprov DKI Diminta Kerja Keras Genjot PAD


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Indah Kalalo, Baru 3 Tahun, Anak Disiapkan Jadi Model

Anak pertama Indah Kalalo, Ayana, yang baru berusia tiga tahun, kerap ikut ...

 

Indah Dewi Pertiwi, No Problem Calon Suami Duda

Pasrah disebut ngarep dipacari Piyu. Toh sejauh ini Piyu sudah memberikan ...

 

Lauren Goodner, Pamer Foto Setengah Bugil

Bintang program televisi Inggris, The Only Ways Is Essex ini kembali membu ...

 

Vicky Shu, Minder Nyari Pacar Yang Kece

Vicky Shu cukup cantik dan seksi untuk ukuran seleb. Toh begitu, ia tak te ...

 

Syahrini, Kerap Gunakan Jet Pribadi, Cuek Disindir Tukang Pamer

Ngaku punya Lamborghini dan sering bepergian memakai jet pribadi. Rasanya ...

 

Duma Riris, Lahirkan Anak Perempuan

Judika Nalon Abadi Sihotang tak berhenti mengucap syukur. Istri­nya, Duma ...





Berita Populer

PPP Sumsel Pastikan Hadir di Muktamar Versi SDA
Banyuwangi Enggan Berharap Lebih ke Pemerintahan Jokowi-JK
Gempa 5 SR Pandeglang Tak Berpotensi Tsunami