Rabu, 25 Juli 2012 , 09:08:00 WIB
![]() ILUSTRASI, RAZIA KENDARAAN BERMOTOR | |
RMOL. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta meminta pihak pengadilan lebih tegas dalam menjatuhkan denda tilang bagi pelanggar lalulintas (lalin) sesuai pasal yang dilanggar. Hal itu penting untuk memberikan efek jera bagi pengendara nakal.
Hal ini diutarakan oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono di Jakarta, kemarin. “Kita telah berkoordinasi dengan pihak pengadilan supaya bisa tegas memberikan denda tilang yang lebih tinggi agar dapat memberikan efek jera bagi pelanggar, mengingat tingkat pelanggaran lalin saat ini semakin meningkat,” ujar Udar.
Dishub juga meminta dukungan pada pihak Kepolisian mengenai hal itu. Polisi diminta tidak tebang pilih dalam menilang pengendara nakal, karena semua sama di depan hukum.
Disamping itu, lanjut Udar, bagi pelanggar lalin yang tidak memiliki SIM atau bahkan menerobos jalur busway, bisa dikenakan denda yang tinggi.
“Saya kira dengan denda yang tinggi dan tidak tebang pilih, tingkat pelanggaran lalin dapat menurun dan Jakarta akan lebih baik,” kata Udar.
Menurutnya, efek jera di masyarakat saat ini masih belum tinggi sehingga pelanggaran masih banyak ditemukan. Untuk mengurai kemacetan di Jakarta, pihaknya sudah menyiapkan kendaraan massal lintas sektoral, yakni di daerah Bekasi dan Tangerang.
“Angkutan ini sudah terintegrasi dengan baik dan akan dikembangkan lagi di beberapa wilayah. Yakni di Depok, Pamulang dan seterusnya sehingga terhindar dari kemacetan karena sebanyak 3,6 juta orang yang bolak- balik dari Jakarta, Bekasi dan Tangerang 87 persennya menggunakan kendaraan pribadi,” ungkap Udar.
Memasuki bulan Ramadhan, Polda Metro Jaya memprediksi jam kemacetan di Jakarta maju satu jam. Kemacetan yang biasanya dimulai pukul 17.00 WIB kini berpindah pukul 16.00 WIB.
Wakil Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya AKBP Wahyono mengatakan, prediksi tersebut berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. “Majunya kemacetan, karena banyak pengendara yang pulang lebih awal untuk buka puasa bersama di rumah,” kata Wahyono.
Dia menjelaskan, selama bulan puasa, ada tiga minggu perubahan. Minggu pertama jalan-jalan dipadati masyarakat yang pulang awal. Pada minggu kedua, dipadati masyarakat yang menuju restoran atau tempat makan. Sementara pada minggu ketiga, kepadatan terjadi di pusat-pusat perbelanjaan.
“Kami melihat pola ini sama tiap tahunnya, jadi kami sudah melakukan antisipasi-antisipasi untuk meredam kemacetan ini,” paparnya.
Menurut Wahyono, selain menambah personel dan menempatkannya di titik-titik kemacetan, imbauan khusus juga dilakukan kepada pengendara untuk bisa lebih tertib dan teratur.
Mengenai prediksi pada minggu ketiga Ramadhan, Ditlantas Polda sudah mengamati sejumlah mall yang berpotensi menim- bulkan kemacetan.
Dia menjelaskan, ada 13 mall yang penjagaannya diprioritaskan. Nantinya Ditlantas Polda Metro Jaya akan menempatkan 3-4 personel untuk mengatasi kemacetan di sana.
“Yang jadi perhatian kita di antaranya Plaza Semanggi, Mall Taman Anggrek, Artha Gading, Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Cibubur Junction, Senayan City, Plaza Senayan, Grand Indonesia, Pejaten Village, Mall Kramat Jati dan Blok M Square,” jelasnya.
Di kawasan mall-mall tersebut, katanya, akan diberlakukan sistem buka tutup. ”Keluar masuk mall harus diatur. Antrian panjang yang keluar dari mall harus diatur terlebih dulu. Kalau di luar mall antriannya sudah panjang, kendaraan yang dari dalam harus ditahan dulu,” tuturnya.
Selain itu, parkir liar dan pedagang kaki lima di sekitar mall akan ditertibkan untuk mengurangi kemacetan. Pihaknya juga mengimbau pusat perbelanjaan untuk tidak membiarkan parkir liar beroperasi. Ditlantas Polda Metro Jaya juga menyediakan pos pengamanan di dekat mall untuk memantau arus lalin.
Menyadari jumlah personel yang tak mencukupi untuk mengatur seluruh mall, Wahyono mengimbau pengelola gedung menerjunkan petugas keamanan guna mengatur lalin. Bagi pemilik kendaraan yang berbelanja di mall jelang Lebaran, dia meminta agar mengutamakan kedisiplinan dan tertib mengantri.
Tingkat Disiplin Masyarakat Masih Minim
OPERASI Patuh Jaya (OPJ) yang digelar Polda Metro Jaya terbukti efektif menertibkan pelanggaran lalin. Kegiatan tersebut diklaim telah menertibkan sedikitnya 22.995 unit kendaraan di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Para pengendara yang melanggar selain dikenakan teguran, juga ada yang diberi sanksi tilang hingga penyitaan kendaraan.
“Selama empat hari saja, OPJ sudah menertibkan 22.995 unit kendaraan baik pribadi atau pun umum,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto di Jakarta.
Ia menyebut, dari 22.995 unit kendaraan yang ditertibkan, sebanyak 6.525 pemilik kendaraan hanya mendapat teguran. Sedangkan 16.470 pemilik kendaraan lainnya ditilang.
“Jadi tidak asal melanggar lalin, ada kondisi di mana pelanggar hanya harus diperingatkan,” kilahnya.
Menurutnya, pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh pengendara adalah melawan arus, tidak menyalakan lampu, masuk jalur busway, tidak pakai helm, Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) tidak sesuai spesifikasi, tidak pakai helm dan lain-lain.
“Untuk wilayah yang banyak terjadi pelanggaran adalah daerah-daerah pinggiran, seperti Bekasi, Tangerang dan Depok. Hal itu dikarenakan masyarakat masih kurang disiplin. Mereka masih banyak yang menganggap remeh aturan,” katanya.
Selama operasi berlangsung, kata Rikwanto, pihaknya, juga mengamankan 269 kendaraan roda dua dan 14 kendaraan roda empat untuk disita.
“Selain itu, kami pun mencatat ada 61 kecelakaan lalin selama operasi berlangsung, dengan 10 korban meninggal dunia, 31 korban luka berat dan 39 korban luka ringan. Operasi ini masih terus berlanjut hingga 29 Juli mendatang. Pengendara diharapkan bisa mentaati peraturan yang ada,” harapnya. [Harian Rakyat Merdeka]

- Macet aja ga di urus









