Rakyat Merdeka Online

Home

Share |

Disdik DKI Nggak Becus Tangani Bullying Di Sekolah
Pengawasan Lemah, Tingkat Penganiayaan Siswa Terus Terjadi
Kamis, 02 Agustus 2012 , 11:05:00 WIB

BULLYING DI SEKOLAH
  

RMOL. Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta belum serius menangani masalah kekerasaan dan penganiayaan (bullying) siswa saat masa orientasi sekolah (MOS). Yang terbaru, kasus bullying terjadi di SMA Don Bosco.

Menteri Pendidikan dan Ke­budayaan (Mendikbud) Muham­mad Nuh diharapkan mampu mengawasi dan melindungi para siswa dari aksi bullying.  Menurut catatan Komnas Perlindungan Anak (KPA) pada 2011, ada 139 kasus penganiayaan di lingku­ngan se­kolah. Sedangkan tahun ini menurun hanya 36 kasus.

 “Kemendikbud dan Diknas DKI belum serius mem­berikan per­hatian ter­hadap aksi kekerasan yang masih ma­rak terjadi di se­kolah saat MOS,” ujar Ketua Ko­misi Per­lindungan Anak Indo­ne­sia  (KPAI) Maria Ulfa di Jakarta.

Komisioner Bidang Pen­di­di­kan KPAI Badriyah Fayumi me­nam­bahkan, penganiayaan dan ke­ke­rasan di sekolah seha­rus­nya da­pat dicegah dengan mela­kukan an­tisipasi, penga­wasan dan tin­da­k­an tegas atas kekerasan tersebut.

“Disdik DKI sebaiknya memi­liki aparat khusus yang mena­nga­ni persoalan kekerasan di se­kolah yang secara proaktif me­lakukan so­sialisasi, pencegahan, dan pe­ngawasan kekerasan di sekolah-sekolah,” saran Badriyah.

Menurut Ketua KPA Arist Mer­deka Sirait, tingkat keke­ra­saan di sekolah tahun ini me­nga­lami pe­nurunan dibandingkan pada 2011 yang mencapai 139 kasus.

“Pada 2011 kasus kekerasan di lingkungan sekolah cu­kup tinggi, yakni 139 kasus. Sedangkan tahun ini baru 36 kasus” ujar Arist.

Arist mengatakan, kasus pe­nganiayaan ini tidak hanya ter­jadi di sekolah, tetapi juga di tem­pat per­gaulan lainnya seperti di kam­pung. “Kasus pengania­yaan ter­diri dari dua kelompok, yaitu ke­lom­pok sekolah dan ke­lompok kam­pung,” ungkapnya.

Dia berpendapat, banyaknya ka­sus penganiayaan di sekolah ka­rena adanya tekanan yang di­lakukan oleh senior terhadap yu­nior agar tunduk terhadap pe­rintahnya. “Artinya digunakan kekuasaan mayoritas terhadap mi­noritas. Di sekolah ujung tom­bak berada di kelas satu dan is­tilah di antara mereka ada yang disebut kelas dewa (di atas kelas satu-red) sehingga tindak keke­rasan terus terjadi,” tuturnya.

Untuk itu, kata dia, perlu ada ko­munikasi, edukasi dan sosia­lisasi terhadap siswa tentang ba­haya kekerasaan di sekolah mau­pun di luar oleh para guru dan pemerintah. “Dengan pendekatan itu, kemungkinan kecil kekera­saan antara siswa akan menurun dan mereka akan belajar dengan baik untuk mendapatkan pres­tasi yang baik juga,” ujar Arist.

Selain itu, lanjutnya, penanga­nan kasus ini sebaiknya disele­saikan lewat perdamaian antar siswa. Namun bila sulit dicapai, maka polisi perlu dilibatkan.

“Lapor polisi kalau dianggap su­lit didamaikan karena polisi pu­nya hak diskresi, yakni penye­le­sai­an di luar pengadilan,” ujarnya.

Menurut Arist, pihak sekolah juga harus menghapus budaya ke­kerasan yang kerap terjadi pada masa orientasi siswa, seperti yang terjadi di SMA Don Bosco.

“SMA Don Bosco harus meng­hapus budaya kekerasan dan menghabisi senioritas ber­da­sarkan Undang-Undang  Per­lin­dungan Anak,” pinta Arist.

Seperti diketahui, peristiwa penganiayaan oleh siswa senior SMA Don Bosco Pondok Indah Jakarta terhadap adik kelasnya terjadi pada 24 Juli 2012. De­lapan siswa kelas I menjadi kor­ban kekerasan seniornya. Mereka diba­wa ke sebuah tempat dan men­dapatkan tindak keke­rasan, se­perti ditendang, dipukul dan disundut rokok. Lima orang korban kemudian melaporkan kasus ini kepada polisi. Hingga kemarin, tujuh siswa Don Bosco sudah dinyatakan sebagai ter­sangka oleh polisi.

Sebaiknya Diselesaikan Dengan Kekeluargaan, Bukan Hukum  

KEPALA Dinas Pendidikan (Dis­dik) DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengaku selalu pro­aktif  menangani kasus ke­ke­rasan dan penganiayaan sis­wa di sekolah saat masa orien­tasi sekolah (MOS).

“Kami selalu menindak­lan­juti kasus kekerasaan di sekolah de­ngan melakukan komunikasi dan mediasi dengan cara per­da­maian antar kedua belah pihak. Tanpa harus mengutamakan jal­ur hukum dulu,” kata Taufik.

Disdik DKI juga memberi­kan kesempatan pada pihak se­kolah untuk menyelesaikan ka­sus pe­nganiayaan yang terjadi di se­kolahnya dengan cara ke­ke­­lu­argaan. Seperti kasus di  SMA Don Bosco Pondok Indah.

Menurut Taufik, persoalan di­ sa­na itu merupakan masalah in­ternal dan sebaiknya dapat se­ge­ra diselesaikan oleh kedua belah pihak. “Kami beri kesem­patan pa­da sekolah karena ini ma­salah in­ternal. Utamakan kebe­radaan dan prinsip penge­lolaan seko­lah harus berjalan,” ujar Taufik.

Taufik mengaku, pihaknya telah menerima laporan terja­di­nya penganiayaan oleh siswa ke­las III SMA Don Bosco Pon­dok Indah terhadap adik kelas­nya. Merespons peristiwa ini, Dis­dik DKI juga telah berko­mu­­nikasi intensif dengan Ko­misi Perlin­dungan Anak Indo­ne­­sia (KPAI) terkait penanganannya.

Meski mengharapkan penye­le­saian secara internal, ia meng­hormati hak orangtua siswa kor­ban untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Namun, me­nu­rut­nya, solusi terbaik adalah me­nyelesaikan masalah ini adalah dengan cara keke­luargaan.

“Tentu tetap menge­depan­kan hak setiap orang. Kami saran­kan untuk menyelesaikan ini dengan baik dan segera,” kata Taufik.

Wakil Kepala SMA Don Bos­co Pondok Indah Gerardus Gantur mengatakan, pihak se­ko­lah belum bisa memu­tuskan apa pun karena masih menung­gu hasil pemeriksaan polisi.

“Ini kan masih diminta kete­rangan sebagai saksi oleh polisi. Jadi kita tunggu saja hasilnya dari polisi,” kata Gerard.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Herma­wan mengatakan, pihak kepo­li­sian ingin mengetahui dan me­meriksa peran para terduga serta mengkonfrontir antara penga­kuan terduga dan korban me­ngenai tindakan pengania­yaan  tersebut. Sembilan siswa dipe­riksa dan kemarin, polisi telah menetapkan tujuh siswa Don Bosco sebagai tersangka. [Harian Rakyat Merdeka]


Baca juga:
Proyek Gedung Pencakar Langit Mesti Dibatasi Dong
MEMBAHAYAKAN PENGENDARA
Dishub & Organda Nggak Becus Tindak Angkot Nakal
Janji Pemprov Mau Renovasi Cuma Omong Kosong...
Dishub DKI Desak Denda Tilang Kendaraan Dinaikkan


Komentar Pembaca
blitz.rmol.co
 

Gigi Hadid, Ketahuan Tidur di Rumah Joe Jonas

Belum jelas apa status antara Gigi Hadid dan Joe Jonas. Pencinta dunia hib ...

 

Ria Irawan, Banyak Faedah, Kok BPJS Dibilang Haram

Baru-baru ini Majelis Ula­ma Indonesia (MUI) mengeluar­kan fatwa yang me ...

 

Prilly Latuconsina, Ledek Penyebar Foto Bugil

Perannya sebagai Sissy di sinetron Ganteng-ganteng Serigala membuat Prilly ...

 

Tatjana Saphira, Ingatkan Junot Untuk Istirahat

Fans ber­harap Tatjana dan Junot jangan kela­maan basa-basi. Segera go p ...

 

Abbey Clancy, Semakin Seksi Setelah Melahirkan

Istri striker Stoke City, Peter Crouch ini pandai menjaga bentuk tubuhnya. ...

 

Poppy Bunga, Suami Pengacara Nyambi Sopir Taksi

Ada cerita unik lain dari Poppy Bunga. Sang suami, Muhammad Fattah Riphat ...





Berita Populer

Keluarga Korban Terima Kabar dari Maskapai Soal Dugaan Puing MH370
Dua Pasangan Bersaing Ketat di Provinsi Jambi
Resmi Daftar ke KPUD, Sani-Nurdin Siap Teruskan Pembangunan di Kepri