Rakyat Merdeka Online

Share |
Pengemis Makin Banjiri Ibukota Selama Ramadhan
Kebijakan Perda Nggak Jelas, Pemprov Gagal Atasi PMKS
Jum'at, 03 Agustus 2012 , 10:44:00 WIB

ILUSTRASI
  

RMOL. Pemprov DKI Jakarta belum tegas menerapkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum di ibukota. Pasalnya, angka gelandang dan pengemis (Gepeng) yang merupakan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), terus meningkat

di Ibukota. Terutama pada bulan suci Ramadhan.

PEMPROV harus mencontoh Kota Purwokerto dan Palembang yang terbukti mampu mene­rap­kan Perda tersebut. Alhasil, ke­dua kota tersebut bersih dari PMKS. Hal ini dikatakan Kepala Biro Humas Kementerian Sosial Benny Setia Nugraha menyikapi maraknya PMKS di Ibukota.

Dia berharap, Pemprov DKI bi­sa serius menerapkan Perda ten­tang Ketertiban Umum de­ngan tegas. Sehingga keberadaan PM­KS bisa diantisipasi jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan suci Ra­madhan. “Tindakan tegas harus diberi­kan untuk mem­be­rikan efek jera bagi mereka agar tidak lagi datang ke Jakarta,” katanya.

Menurutnya, Pemprov DKI me­lalui Dinas Sosial seharusnya sudah punya konsep atau pro­g­ram yang tepat. “Jangan saat bu­lan Ramadhan, Pemrpov baru si­buk menjaring para PMKS dan me­mulang­kannya ke kampung ha­laman ma­sing-masing,” ujarnya.

Jika tidak ada konsep yang je­las untuk penanganan, kata dia, keadaan ini akan menjadi bom wak­tu untuk Pemprov DKI. “Pe­mulangan para PMKS juga ja­ngan hanya menjadi semacam rek­reasi dipu­langkan dengan bus, tanpa ada solusi buat mereka di daerahnya masing-masing.”

Menurut Benny, khusus di DKI, saat ini terdapat 18 titik peman­tauan para gepeng. Titik pan­tauan ini seharusnya sudah bisa dian­tisipasi agar bisa dicegah dengan datangnya para gepeng. Dari pan­tauan Kementerian So­sial (Ke­mensos), ada se­kitar 1.930 PMKS yang selalu da­tang ke Jakarta, dan di 18 titik ini Ke­mensos sudah menerjunkan pe­tugas Dinas Sosial.

Kejadian yang terus terulang tiap musim Ramadhan ini me­nun­jukkan, fungsi dan peran Pem­prov DKI nampaknya belum pe­duli dengan persoalan ini. Ma­salah ini bisa  menjadi bom waktu jika tidak segera dianti­sipasi de­ngan tepat,” kritik Benny.

“Apalagi DKI terlalu terbuka dan penanganan yang lakukan ha­nya bersifat instan. Tidak he­ran, ketika ditampung di panti dan balik ke kampung, besoknya kembali lagi ke Jakarta. Panti cu­ma tempat penampungan se­men­tara. Sanksi bagi para PMKS se­harusnya bisa membuat mereka jera untuk kembali datang ke Ja­karta,” imbuh Benny.

Menurut Benny, penanganan masalah ini sebenarnya sudah menjadi kewenangan Dinas So­sial DKI. Apalagi datangnya me­reka ini bersifat musiman, yang jika ditilik di daerahnya, mereka bukanlah para kaum dhuafa. Pa­salnya, di daerah rumah mereka bisa dibilang layak huni. Pe­kerjaan yang dilakoninya semata karena sifat kemalasan.

“Di daerahnya, mereka tidak me­miliki pekerjaan tetap. Nah, mereka mencari nafkah dengan menjadi pengemis. Pengemis jadi lahan peker­jaan mereka tiap ta­hun. Ketika kita uji lapangan ke daerahnya, rumah mereka  ba­gus-bagus. Menjadi penge­mis hanya tradisi saja,” katanya.

Menurut Benny, Kemensos su­dah berupaya untuk menun­tas­kan masalah pengemis musiman ini. Apalagi kedatangan mereka sebenarnya sudah bisa diprediksi pada bulan Ramadhan, Lebaran Haji, Lebaran China, dan pera­ya­an keagamaan lainnya.

“An­tisipasi yang dilakukan di antaranya dengan memantau dan mencegah kedatangan mereka di tiap terminal,” katanya.

Kasie Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta Prayitno menjanjikan, pihaknya akan menggelar razia gabungan secara besar-besaran. Namun, program ini melihat kondisi per­kembangan di lapangan. Jika memang ada gejolak atau pe­ning­katan jumlah PMKS, maka razia gabungan ini digelar de­ngan me­libatkan instansi terkait seperti Satpol PP, Dinas Perhu­bungan, TNI/Polri dan sebagainya.

Sindikat Gepeng Di Jakarta Sulit Ditertibkan

Untuk mengatasi keberadaan pe­nyandang masalah kesejah­te­raan sosial (PMKS), Pemprov DKI me­lalui Satpol PP dan Dinas Sosial DKI Jakarta terus me­lakukan pe­nertiban. Meski be­gitu, Gu­ber­nur DKI Jakarta Fauzi Bowo me­minta jajaran­nya agar me­lakukan pener­tiban secara persuasif.

“Penertiban PMKS harus terus dilakukan. Namun, saya minta pe­nertibannya dengan cara-cara yang manusiawi. Tak perlu de­ngan ca­ra kekerasaan,” pinta Foke di Jakarta, kemarin.

Foke menegaskan, saat ini Pem­­prov DKI fokus terhadap sin­dikat yang mengkoordinir pa­ra PMKS. Sebab,PMKS yang ada di Jakarta saat Ramadhan, bukan hanya ber­asal dari daerah penyangga seperti Bekasi, Ta­nge­rang dan Bogor saja. Tapi banyak juga dari Cirebon, In­dramayu, Sukabumi bahkan beberapa kota di Jawa Timur.

“Sudah ada sindikat yang dapat ditangkap. Kemudian mereka yang menjadi korban akan di­kembalikan ke daerah masing-masing. Para korban ini diman­faatkan untuk ditarik uang me­reka dan dimanfaatkan untuk bisnis,” ungkapnya.

Kepala Satpol PP DKI Jakarta Effendi Anas membenarkan, ada salah satu jaringan sindikat PMKS yang tertangkap aparat. Namun, Anas belum mau meng­ungkapkan identitasnya.

“Kami sedang me­nelusuri ja­ringannya se­karang,” kata Anas tanpa menye­butkan nama sin­dikat tersebut.

Hingga saat ini, pihaknya ma­sih melakukan penyelidikan ter­hadap sindikat tersebut beker­ja sama dengan aparat Kepo­lisian. Ia juga masih merahasiakan me­ngenai dimana dan kapan me­reka tertangkap. “Kami meminta wak­tu satu sampai dua hari un­tuk mem­bongkar jaringan me­reka,” tegasnya.

Ia menyebutkan, keberadaan PMKS di Ibukota telah melang­gar Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Maka dari itu, pihaknya akan melaku­kan penertiban di lima wilayah kota di Ibukota, khususnya di titik-titik rawan PMKS.

Titik-titik rawan PMKS itu, antara lain perempatan Matra­man, perempatan Pramuka, ka­wa­san Kelapa Gading, perem­patan Cempaka Putih atau Coca-cola, Tamini Square, Fatmawati, dan perempatan Kuningan atau Mampang Prapatan.

Pria yang akrab disapa Efan ini menuturkan, pada minggu per­tama bulan Ramadhan, pi­hak­nya belum melakukan penyi­siran titik-titik rawan PMKS.

Dalam penertiban, kata Effen­di, pihaknya bekerja sama de­ngan Dinas Sosial DKI Jakarta. Semua PMKS yang terjaring langsung dimasukan ke dalam panti sosial yang telah disedia­kan oleh Dinas Sosial DKI Ja­kar­ta. Segala ben­tuk PMKS se­perti manusia ge­robak, gelanda­ngan, pengemis, serta anak ja­la­n­an, jadi fokus penanganan. [Harian Rakyat Merdeka]


Baca juga:
Disdik DKI Nggak Becus Tangani Bullying Di Sekolah
Proyek Gedung Pencakar Langit Mesti Dibatasi Dong
MEMBAHAYAKAN PENGENDARA
Dishub & Organda Nggak Becus Tindak Angkot Nakal
Janji Pemprov Mau Renovasi Cuma Omong Kosong...

Komentar (5)

Nama :
Judul :
Komentar :
  1. gelandangan
    24.08.2012, 09:51 WIB
    Komentator: fausi
    gelandangan juga manusia dia ingin hidup yang layak cuma tidak bisa, dia pun tidak ingin jadi gelandangan dan pengemis dia ingin hidup makmur juga tinggal apartanya harus memenahidong kinerjanya. contoh kinerja yang baik yaitu mengapa tanah milik batalyon polisi militer di jalan kebon sirih jakarta pusat menjadi milik kedutaan besar amerika aparat diam saja. Apa ada yang di untungkan kasus ini kami tidak tahu.Dimana kinerja anda ? ?....
  2. Fauzi Bowo gak becus urus gelandangan.
    11.08.2012, 14:44 WIB
    Komentator: Asmin bin H. Kenan, pondok pinang.
    Dari pada duit Fauzi bowo buat nyogok yang belum tentu pilih dia, mendingan itu duit sedekahin buat gelandangan dan pengemis.
  3. Pengemis dan gelandangan itu manusia Indonesia
    04.08.2012, 01:41 WIB
    Komentator: Bloon
    Pengemis dan gelandangan itu manusia Indonesia. Mereka jadi pengemis dan gelandangan karena yg namanya eksekutif, legislatif dan judikatif bersinergi menggarong dan ber-KKN-ria, sehingga hal2 mendasar yg diamanatkan UUD, seperti fakir-miskin dan anak2 dipelihara oleh negara tidak dijalankan sama sekali!!

    Buat Hutami, bersyukurlah anda dan keluarga tidak ada yg jadi pengemis dan gelandangan. Tapi tidak ada seorangpun yg tahu masa depannya!!!
  4. si kumis saat sudah lengser
    03.08.2012, 11:01 WIB
    Komentator: wida
    si kumis sudah gagal total, bisanya cuman ngabisi uang rakyat buat saweran, bayar preman ormas, bayar iklan, survey,,,sudahlah tamat , duit akan habis, tidak ada yang dikerjakan
  5. Usir saja pengemis dan gelandangan
    03.08.2012, 10:58 WIB
    Komentator: Hutami
    Memprihatinkan banyaknya gelandangan dan pengemis yang ke Jakarta, anehnya terutama dalam bulan Ramadhan dan menjelang lebaran. Perlu tindakan tegas dan usir saja, agar tidak datang lagi ke Jakarta
blitz.rmol.co
 

Marissa Nasution, Nggak Suka Keringetan

Bintang film Namaku Dick, Cowok Bikin Pusing dan Kejar Cinta Javanua ini s ...

 

Sophia Mueller, Bikin Film Gandeng Mantan Suami

Debut Sophia Mueller (dulu Latjuba) menjadi seorang produser dan sutradara ...

 

Cara Delevingne, Tolak Leonardo DiCaprio

Rising star di dunia modeling ini rupanya tak muda dirayu lelaki. Buktinya ...

 

Prisia Nasution, Susah Jadi Istri Jokowi

Setelah bermain cemerlang dalam film Sang Penari serta Laura & Marsha, ...

 

Ibunya Rasti Kecewa Eza Dituntut 5 Bulan Bui

Eza merasa diperlakukan tidak adil. Ia memelas, sebagai orang susah harusn ...

 

Iba, Payudara Jolie Diangkat

Bukan rahasia lagi, kalau Jennifer Aniston sakit hati saat tahu Brad Pitt, ...

 

Mila Kunis, Diinginkan Bikin Video Porno

Mila Kunis menempati posisi pertama sebagai selebriti yang video pornonya ...

 

Raffi & Luna Pedekate?

Restu didapat asal Luna sayang sama ibu dan keluarga Raffi. Namun umur jad ...

 

Beredar, Foto Bugil Mirip Sefty Sanustika

Sefty Sanustika bikin heboh. Pasalnya, telah beredar di internet, beberapa ...

Gotong Royong Ala Jepang

Bantal Emas Masal dari Negara Tropik


Kesetiaan Ksatria Yudhoyono Diuji Kanjeng Ratu Elizabeth II