Petugas Damkar Masih Terbatas
Sabtu, 04 Agustus 2012 , 08:33:00 WIB
![]() ILUSTRASI, KEBAKARAN | |
RMOL.Jakarta saat ini disebut sebagai supermarket bencana. Dari sejumlah bencana yang terjadi, bencana kebakaran menduduki peringkat pertama yang mengancam Ibukota. Selain bencana banjir dan macet.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Danang Susanto mengatakan, ada tiga bencana yang kerap melanda DKI. Yaitu, bencana alam, bencana non-alam dan bencana sosial yang masih menghantui Jakarta.
“Bencana alam yang mengancam Jakarta, yakni banjir dan puting beliung, bencana non alam seperti kebakaran dan macet serta bencana sosial, yaitu teroris dan konflik antarkelompok. Jakarta adalah supermarket bencana,” ujar Dadang.
Danang mengatakan, bencana yang paling mengancam Ibukota adalah kebakaran. Namun, pihaknya masih memiliki kendala untuk menangani bencana tersebut setiap tahunnya. Terutama faktor keterbatasan jumlah personel Pemadam Kebakaran (Damkar).
Tahun lalu, jumlah personel Damkar DKI tercatat hanya 3.145 orang. Padahal, idealnya dengan luas kota Jakarta saat ini, jumlah personel Damkar yang dibutuhkan sebanyak 10 ribu orang.
“Setiap tahunnya terdapat 900 kali kebakaran di Jakarta. Penyebab kebakaran di antaranya 64 persen dari arus pendek aliran listrik, 8,6 persen kompor, 4,6 persen rokok. Dan sisanya lilin, lampu minyak dan lain-lain,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan jumlah personel Damkar, pihaknya bersama Dinas Damkar dan Penanggulangan Bencana (PB) DKI kerap memberikan penyuluhan pada masyarakat agar mengurangi penggunaan bahan yang mudah terbakar. Warga juga diimbau untuk melakukan pengecekan instalasi listrik secara berkala.
“Potensi kebakaran kerap terjadi di lingkungan perkantoran, mal, pasar, hotel, tempat hiburan maupun permukiman padat penduduk,” ungkapnya.
Sedangkan untuk banjir, kata Danang, saat ini tidak begitu mengancam Jakarta. Terlebih, sejak difungsikannya Kanal Banjir Timur (KBT) yang mampu mengurangi volume air di suatu tempat.
“Jumlah 78 titik banjir kini berkurang menjadi 62 titik berkat adanya KBT. Meski begitu warga diimbau tetap waspada dengan adanya ancaman tersebut,” tuturnya.
Wakil Walikota Jakarta Utara Natsir Sabara menjelaskan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) merupakan unit baru di Pemprov DKI dengan tupoksi penanggulangan bencana yang kini ditangani BPBD DKI.
“Mereka akan bertugas terkait dengan pengevakuasi, bantuan makanan, pengungsian, dapur umum bagi korban bencana,” kata Natsir.
Seperti diberitakan, sepanjang Sabtu ( 28/7), tiga peristiwa kebakaran melanda Ibukota. Dari tiga kejadian itu, kebakaran yang kerap terjadi di Tambora, Jakarta Barat, mengakibatkan dua bocah tewas.
“Kebakaran di Tambora tercatat dua orang meninggal, yaitu Rahma, 4 tahun dan Siti Khodijah, 5 tahun,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.
Dua kebakaran lain, yakni di Cililitan, tepatnya di Gang Damai RT 03/09, Jakarta Timur. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran yang terjadi pada malam hari itu. Kebakaran ketiga terjadi di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari. Kebakaran terjadi di Jalan Mangga Dua, Gang Burung RT 8. Sebanyak 32 rumah yang dihuni 80 kepala keluarga atau sekitar 500 jiwa terbakar sejak siang hingga sore hari. Yang terbaru, kebakaran terjadi di RT 10 RW 5 Kedoya Selatan, Jakarta Barat pada Kamis (2/8).
“Kebakaran tersebut berawal dari dua mess karyawan, kemudian menjalar ke sebuah sepeda motor, dan menyambar sebuah bengkel rakitan di daerah tersebut,” kata Kepala Seksi Operasional Sudin Damkar dan Penanggung Jawab Bencana Jakarta Barat Sutarno.
Selain di Kedoya, kata Sutarno, kebakaran juga terjadi di Joglo, Jakarta Barat. Gudang sekolah SMA 101 Jakarta hangus terbakar. Empat mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api tersebut. Kebakaran terjadi pada jam 11.30 WIB. [Harian Rakyat Merdeka]

- serahkan pd ahlinya









