Rentan Memicu Kerawanan Sosial
Senin, 06 Agustus 2012 , 09:14:00 WIB
![]() GENG BALAP LIAR MOTOR |
RMOL. Penertiban aksi balap liar di Ibukota belum sepenuhnya dilakukan dengan baik. Pihak kepolisian diharapkan tidak hanya menindak, tetapi mestinya membubarkan geng balap liar tersebut. Jika itu dibiarkan, akan memicu tumbuhnya kerawanan sosial yang membahayakan masyarakat Jakarta.
Menurut Koordinator Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, balap liar di jalan raya pada malam hari sudah lama terjadi. Mereka seolah menguasai jalan raya dengan memakai lampu merah sebagai aba-aba start balap liar.
“Balapan liar seperti ini sudah ada dari dulu, tapi polisi terkesan membiarkan aksi ini berlanjut ke semua wilayah,” kritik Neta.
Jika mereka sedang balapan, maka semua pengendara yang lewat di kawasan tersebut harus mengalah. Selain rawan ditabrak, pengendara umum bisa kena caci maki ‘panitia’ balap liar yang berujung pada keributan.
“Ini sangat membahayakan orang lain dan juga yang balapan,” tuturnya.
Menurut dia, balap liar ini mesti segera ditangani dengan serius karena itu bisa menumbuhkan geng motor yang membahayakan masyarakat luas.
“Hampir di setiap titik ibukota balap liar dilakukan. Kalau polisi serius, sejak dulu geng balap liar ini bisa dibubarkan. Karena kalau dibiarkan, mereka semakin merasa aman dan kian membesar menjadi geng motor,” katanya.
Menurutnya, kalau polisi tidak segera menangani geng motor tersebut, bisa memicu tumbuhnya kerawanan sosial. Masyarakat yang antipati dengan geng motor bisa melakukan aksi main hakim sendiri. “Seharusnya dari dulu ini masalah ini sudah bisa diatasi,” kritiknya.
Berdasarkan catatan IPW sejak 2009, hingga kini sudah terdapat 195 orang tewas di arena balap liar. ”Pada 2009, terdapat 68 orang tewas di arena balapan liar, baik akibat kecelakaan maupun pengeroyokan. Pada 2010 ada 62 orang tewas dan 2011 terdapat 65 tewas,” ungkap Neta.
Menurut data IPW, ada tiga perilaku buruk pada geng motor, yakni balapan liar, judi (taruhan) dan tawuran (pengeroyokan). Oleh karena itu, IPW berharap Polda Metro Jaya dapat mengedepankan Polsek dan Polres untuk memberantas geng motor dan balapan liar ini.
“Jika tidak, konflik sosial akibat dendam atas perilaku geng motor ini akan terus berkecamuk di Jakarta,” warning Neta.
Sosiolog UI Imam B Prasodjo menilai, fenomena balap liar terjadi karena pembangunan kota yang tidak menyediakan ruang publik memadai. Seharusnya ruang publik dapat dipakai sebagai tempat penyaluran aktivitas mereka. Karena tidak ada, warga kota mencari ruang penyaluran, seperti yang dilakukan komunitas sepeda motor tersebut.
“Aktivitas komunitas ini dapat mengarah ke hal positif ataupun negatif. Namun banyak yang tidak memiliki visi aktivitas positifnya,” ungkap Imam.
Sedangkan menurut sejarawan JJ Rizal, pada zaman Gubernur DKI Ali Sadikin, gerombolan sepeda motor diberikan tempat untuk balapan di Ancol. Balapan liar di Jakarta pun bisa berkurang. Hanya saja, saat itu balapan liar tetap terjadi di kawasan Monas yang didominasi anak-anak polisi dan TNI.
Dalam konteks saat ini, kata Rizal, balapan liar juga dipicu semakin mudahnya memperoleh kredit sepeda motor. Pada masa lalu, hanya kalangan menengah yang terlibat.
“Untuk mengatasinya, perlu didayagunakan dan diberikan arena agar tidak liar dan meresahkan,” saran Rizal.
Polisi Tingkatkan Patroli Ke Setiap Wilayah
Kepolisian Daerah Metro Jaya mengklaim, Jakarta bersih dari aksi balap liar selama pelaksanaan bulan puasa. Belum ada satu pun aksi balap liar yang ditemukan aparat kepolisian di jalan-jalan Ibukota.
Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Dwi Sigit Nurmantyas mengatakan, bersihnya aksi balap liar di Jakarta karena patroli yang ditingkatkan di setiap wilayah.
“Kami terus berpatroli tiap malam. Ada ratusan anggota yang diturunkan menjaga tempat yang biasa dijadikan balapan liar. Tapi sejauh ini belum ada yang ditindak, tidak ada aksi balapan liar,” ujar Sigit.
Sigit menjelaskan, di luar bulan puasa, ratusan anggota polantas yang bertugas berpatroli di lokasi balapan liar biasanya hanya berpatroli pada malam Minggu. Namun selama Ramadhan, setiap malam anggota terus berpatroli.
Selain itu, lanjut Sigit, jumlah personel yang disiagakan juga cukup banyak, yakni 250 personel. Mereka berpatroli di titik-titik rawan balap liar. Jika terlibat langsung balapan liar, maka mobil pelaku balap liar akan ditilang selama dua minggu.
Sigit menegaskan, pihaknya akan meningkatkan patroli untuk mengantisipasi terjadinya balapan liar dan menidak tegas bagi balap liar yang melanggar.
“Kami akan tingkatkan patroli untuk memantau dan mengatasi balapan itu. Kalau ada, akan kami tindak tegas. Kami akan pastikan tak terjadi lagi,” janjinya.
Sigit mengimbau kepada masyarakat agar memilih kegiatan positif saat Ramadhan. Balapan liar bukan pilihan, karena membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.
“Sebaiknya pilih kegiatan yang lebih baik. Balapan liar itu berbahaya, bukan hanya untuk dirinya tapi juga orang lain,” tuturnya.
Polda Metro Jaya memperingatkan adanya balapan liar di wilayah Jakarta yang marak terjadi menjelang buka puasa atau waktu sahur menjelang subuh. Ada beberapa lokasi yang kerap dipilih anak-anak muda untuk balap liar.
Lokasi yang kerap digunakan untuk balapan liar, yaitu Jakarta Barat ada empat lokasi, yakni Ringroad Rawa Buaya, Ring Road Taman Palem, Jl Raya Mall Puri dan Jl Raya Panjang. Jakarta Pusat tiga lokasi: Jl Asia Afrika, Jl Ketapang, Jl Benyamin Sueb. Jakarta Utara lima lokasi: Jl Marunda, Pantai Indah Kapuk, Kemayoran, Jl Artha Graha, Jl Danau Sunter. Jakarta Timur tiga lokasi, Jl Pramuka, Depan LP Cipinang, Taman Mini. [Harian Rakyat Merdeka]











