Penertiban Rutin Dinsos DKI Dinilai Tidak Efektif
Sabtu, 11 Agustus 2012 , 10:16:00 WIB
![]() ILUSTRASI, PENGEMIS BERKEDOK PENYAPU |
RMOL. Penertiban rutin yang dilakukan Dinas Sosial DKI Jakarta selama Ramadhan ternyata tidak efektif. Buktinya, penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) masih mudah ditemukan di banyak sudut jalanan ibukota.
Bahkan mereka mencari peluang baru dalam mengais rezeki dengan menyamar menjadi penyapu jalan yang menggunakan atribut Dinas Kebersihan (Dinsih) DKI Jakarta. Para penyapu jalan ini, terang-terangan meminta sedekah dari pengendara mobil dan motor yang melintas di jalan-jalan Jakarta.
Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna menegaskan, keberadaan PMKS yang menyamar sebagai penyapu jalan menggunakan atribut Dinsih dan meminta sedekah dari pengendara kendaraan bermotor telah mengakibatkan citra Dinsih tercoreng. Sebab, tidak ada penyapu jalan dari Dinsih diperbolehkan melakukan hal itu.
“Kami tegaskan itu bukan petugas Dinsih,” kata Eko.
Menurutnya, PMKS tersebut ada yang mengoordinir dengan menyewakan rompi Dinsih, sehingga tidak ada kecurigaan saat terjadi penertiban rutin Ramadhan yang dilakukan Dinas Sosial DKI. Akibatnya, mereka seringkali lolos dari penangkapan dan bebas melakukan aksinya kembali meminta sedekah kepada pengguna jalan.
“Ya kalau memakai rompi Dinsih, pasti tidak akan dicurigai sebagai PMKS atau gelandangan atau pengemis (gepeng). Pasti mereka lolos dari penertiban. Ini sudah terjadi bertahun-tahun. Karena itu, warga harus waspada, jika diminta sedekah oleh penyapu jalan, jangan dikasih,” tegasnya.
Penyapu jalan di bawah koordinasi Dinsih DKI telah mendapatkan honor yang dibayarkan bulanan, sehingga tidak mungkin mereka meminta uang kepada pengendara di jalan. Jika memang ada, Eko minta warga melaporkan ke Dinsih, sehingga bisa dikenakan sanksi terberat, yaitu pemecatan.
“Memang sebagian petugas lapangan penyapu jalan adalah karyawan outsourcing. Namun jika terbukti dia melakukan hal itu, akan diberikan sanksi terberat, yaitu dipecat,” tuturnya.
Meski demikian, hingga saat ini Dinsih belum menemukan petugas penyapu jalan yang meminta sedekah di jalan. Selama ini yang tertangkap mengaku bukan petugas Dinsih DKI. Untuk mengawasi atau memonitor para penyapu jalan tersebut, Dinsih telah meminta kelurahan, kecamatan dan Satpol PP melakukan penertiban.
“PMKS yang menyamar sebagai penyapu jalan harus segera ditertibkan. Kasihan kan para penyapu jalan yang selama ini bekerja dengan baik menjaga kebersihan kota Jakarta, tercoreng citranya gara-gara PMKS tersebut,” terangnya.
Dipaparkan Eko, penyapu jalan di Jakarta berjumlah 6 ribu petugas. Di antaranya, 3 ribu petugas penyapu jalan di bawah koordinadi Dinsih DKI, sedangkan 3 ribu petugas lain di bawah koordinasi pihak swasta.
Kepala Satpol PP DKI Jakarta Effendi Anas mengaku, pihaknya terus melakukan penertiban gepeng, manusia gerobak dan PMKS lainnya yang mencari rezeki di ibukota. Menurut Anas, keberadaan PMKS sudah melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.
“Kami melakukan penertiban di lima wilayah kota di ibu kota, khususnya di titik-titik rawan PMKS. Petugas kita siagakan 700 orang untuk menertibkan PMKS. Biasanya kita kerja sama dengan Dinas Sosial,” jelasnya.
Sebelum melakukan penertiban, Anas mengaku, pihaknya terlebih dahulu melakukan pendekatan secara persuasif terhadap PMKS tersebut untuk kembali ke daerahnya masing-masing dan melarang mereka mengemis di jalan.
“Kalau melalui pendekatan persuasif tidak berhasil dan masih ada gepeng yang membandel, nekad meminta sedekah di jalan-jalan, maka kita akan tertibkan sesuai Perda Nomor 8/2007,” ujarnya.
652 Pengemis Terjaring Razia
Dalam upaya penertiban dan penekanan jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di ibukota, Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi DKI Jakarta melakukan operasi sejak awal hingga minggu ketiga Ramadhan. Hasilnya, sebanyak 652 PMKS terjaring dalam operasi tersebut.
“Mereka segera kita rujuk ke panti pembinaan,” ujar Seksi Rehabilitasi Dinas Sosial Provinsi DKI Prayitno.
Prayitno mengatakan, para PMKS tersebut segera mendapat pembinaan di tiga panti sosial yang ada di Jakarta. Panti Sosial Bina Insan Kedoya membina 318 orang. Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya Dua Ceger membina 175 orang dan di panti sosial Bangun Daya Tiga Cengkareng membina 159 orang. Prayitno mengaku, operasi yang dilakukan berjalan lancar.
Para PMKS seperti pengemis, pengamen, anak jalanan, pemulung, manusia gerobak, bahkan sampai joki three in one terjaring dalam razia tersebut. Operasi tersebut bertujuan menyelamatkan para PMKS agar tidak terjerat ke dalam masalah yang lebih kompleks.
“Karena ketika PMKS dibiarkan menggelandang di jalan, mereka bisa saja terkena masalah di jalan. Seperti penyakit dan dipengaruhi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk bertindak kriminal,” jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]











