Pedagang Dan Pembeli Mesti Menjaga Sarana Pasar
Jum'at, 21 September 2012 , 09:16:00 WIB
![]() ILUSTRASI, PASAR TRADISIONAL |
RMOL. Ancaman pasar modern terhadap pasar tradisional hanya akan jadi ancaman kosong, jika standarisasi pasar tradisional diterapkan dengan baik. Setiap pasar memiliki karakter dan kebutuhannya masing-masing.
Anggota Arsitek Muda Indonesia (AMI) Ahmad Djuhara mengatakan, tidak optimalnya kegiatan pasar tradisional karena standar yang terlalu tinggi.
“Memberikan standar yang tidak sesuai justru akan membunuh pasar tersebut, karena kegiatan tidak dapat dilakukan secara optimal,” katanya.
Menyangkut soal identitas pasar, Ahmad mengatakan, seorang gubernur di DKI Jakarta perlu melakukan hal-hal yang revolusioner. “Kita butuh diktator berhati emas agar punya pasar yang otentik,” katanya.
Arsitek yang juga anggota Jak@Art dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini mengungkapkan, pasar tradisional itu sangat dibutuhkan masyarakat. “Coba pikirkan, jika Pasar Mayestik ditutup selama sebulan, pasti banyak orang yang marah. Justru itu adalah pertanda baik, banyak orang masih membutuhkannya,” kata Ahmad.
Ia mengatakan, salah satu hal yang membuat pasar tradisional tak tergantikan adalah sistem yang sederhana dan menguntungkan masyarakat kelas menengah ke bawah. Menurutnya, pasar tradisional dapat bertahan walaupun pusat perbelanjaan modern seakan-akan menghimpit eksistensi mereka. “Penataan, termasuk penataan sirkulasi, bukan hanya penataan kios penjual. Ini penting untuk kelangsungan pasar tradisional,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Ahmad, sangat perlu mengelola sistem pembuangan pada pasar basah. Pasar jenis ini harus ditempatkan di atas pasar kering, agar air mengalir ke bawah dan pasar menjadi kering.
“Sirkulasinya harus baik agar hawa dalam pasar menjadi segar,” tambahnya.
Yang menghidupkan pasar dan mampu membunuh keberadaan pasar tradisional, nilai Ahmad, adalah pasar itu sendiri. Para penjual dalam pasar seharusnya berusaha menarik konsumen dengan sebaik mungkin.
Di sisi lain, para konsumen juga seharusnya menyadari, mereka butuh keberadaan pasar tradisional tersebut. Jika semua pihak saling menjaga, kondisi pasar serta sarana dan prasarana di dalamnya menjadi nyaman. Dengan kenyamanan ini, semakin banyak konsumen tertarik mengunjungi pasar tradisional.
Sebelumnya, peneliti sekaligus pengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH) Elisa Sutanudjaja menyatakan, saat ini di Jabodetabek ada lebih dari 200 mall atau pusat perbelanjaan modern. Di sisi lain, pasar tradisional berukuran besar di bawah pengelolaan PD Pasar Jaya hanya berjumlah 153 pasar.
Elisa mengatakan, dengan jumlah tersebut, eksistensi pasar tradisional di Jakarta tetap belum tergantikan. Pasar tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, baik pasar basah, pasar kering, maupun kios-kios warung kecil di daerah perumahan belum dapat tergantikan secara sempurna oleh mall atau minimarket yang semakin menjamur di Jakarta.
“Belum tentu pihak swasta bersedia membuat pasar-pasar spesifik seperti Pasar Rawabening dan Rawabelong,” ujar Elisa.
Dirut PD Pasar Jaya Djangga Lubis mengatakan, pihaknya terus berusaha mengubah pandangan masyarakat selama ini tentang pasar tradisional sebagai pasar yang becek, kumuh, dan tidak higienis. “Anggapan itu tertuju terhadap pasar tradisional lama,” ungkapnya.
Pasar tradisonal, kata Lubis, akan diperbaiki menggunakan konsep lebih modern. “Pasar tradisional kita sediakan untuk memfasilitasi pedagang agar berusaha lebih tenang dan bisa mendapatkan penjualan lebih tinggi dari sebelumnya,” ujarnya.
Ada Persaingan Tidak Sehat
Pasar tradisional saat ini dinilai semakin terpinggirkan akibat ekspansi pasar modern yang kian marak di Indonesia, terutama di Jakarta.
CEO Itqoni Group ²Irwan Khalis mengatakan, pasar modern sudah mengelilingi pasar tradisional yang ada. “Padahal aturannya, pasar modern tidak boleh dekat dengan pasar tradisional. Harusnya pasar modern jaraknya dua kilometer dari pasar tradisional,” katanya.
Ini menyebabkan terjadi persaingan tidak fair dan tercipta pasar bebas yang sangat dibebaskan. Hal ini, kata Irwan, merupakan masalah eksternal yang dihadapi pasar tradisional saat ini. “Pasar tradisional eksis puluhan tahun lalu dan memiliki konsumen tetap. Yang tidak dipunyai pasar tradisional adalah infrastruktur untuk melayani konsumen. Misalnya kalau hujan kehujanan dan panas kepanasan,” kata dia.
Irwan menyarankan, harus adanya perbaikan dari pasar tradisional yang sudah ada untuk bisa memperkuat fungsi pasar tersebut. “Misalnya ventilasi pasar diperbaiki dan dibuat bagus, sehingga sirkulasi udaranya membuat pembeli dan pedagang nyaman,” kata Irwan.
Pasar tradisional, jelas Irwan lagi, harus diberdayakan. Sebab, seluruh elemen masyarakat dari berbagai golongan masyarakat menggunakan pasar tradisional untuk berbelanja, sehingga harus mendapat perhatian serius semua pihak terutama Pemerintah daerah.
Dia menyebut, dana yang dibutuhkan untuk renovasi pasar tradisional tidaklah kecil, sekitar 40 juta dollar AS. Irwan mengatakan, sisa dana sekitar 15 juta dolar AS dari total investasi revitalisasi pasar tradisional tahun ini akan diambil dari kas internal induk usaha mereka yaitu, PT Panglima Capital Itqoni. [Harian Rakyat Merdeka]











