Verified

Pilgub Jabar Bakal Kena Imbas Politik DKI Jakarta

Kang Emil Ngaku Rileks

Nusantara  JUM'AT, 21 APRIL 2017 , 09:21:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ridwan Kamil/Net

RMOL. Pilkada DKI 2017 bisa berdampak pada Pilkada Jawa Barat (Jawa Barat) 2018. Apalagi beberapa kandidat kuat sudah mulai muncul, seperti Wagub Deddy Mizwar, Walikota Bandung Ridwan Kamil, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, anggota DPR Desi Ratnasari dan Dede Yusuf. Situasi Jabar sudah mulai menghangat.
Walikota Bandung Ridwan Kamil mengakui, panas konsta­lasi politik di Pilgub DKI bisa merambat ke Jabar. Apalagi, kata dia, selama ini Jabar dikenal sebagai terasnya DKI.

"DKI panas dampaknya bisa ke Jabar, teori-teori di DKI mungkin juga merambahdi Jabar. Tapi saya santai saja. Silakan berupaya, namanya juga kompetisi," ujar Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, di Hotel Hilton, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, kemarin.

Hingga kini, Emil mengaku, belum mendapatkan perahu politik berkaitan kesiapannya membidik kursi Jabar 1. Emil mengaku belum memilih partai politik. Sejauh ini, dia terus menjalin komunikasi dengan semua partai.

"Saya nggak berpartai. Jadi saya berkomunikasi dengan partai manapun. Sama saja. Porsinya saya nggak bisa men­ebak merekamemilih saya atau tidak. Saya tidak pilih-pilih partai," ujar Kang Emil.

Sebelumnya, Partai Nasdem sudah mendeklarasikan Ridwan Kamil sebagai calon Gubernur Jabar 2018. Bahkan, Partai Golkar dan PAN sudahter­tarik untuk mengusung Ridwan Kamil.

Emil mengaku, sangatsantai mengikuti proses Pilkada Jabar 2018 dan sudah siap dengan hasil buruk. "Saya nggak ada perubahan. Politik itu dinamis. Masalah nanti nyangkut tidak nyangkut, tidak masalah. Saya sudah hitung terburuknya. Kalau saya tidak menjabat, saya jadi orang biasa lagi. Saya bisa ber­manfaat atas dasar keikhlasan itu. Jadi mengikuti prosesnya dengan rileks," ungkapnya.

Meski beberapa lembaga sur­vei mengunggulkannya, tapi Kang Emil mengaku jika popu­laritasnya di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, masih lemah.

Ridwan mengatakan, masih banyak masyarakat khususnya di wilayah pedesaan tak begitu mengenali sosoknya.

Sebab itu, dalam waktu dekat ia pun berencana mengunjungi wilayah pedesaan di Jabar seba­gai salah satu agenda kampanye­nya. "Saya bergerak berdasarkan survei, yang lemah saya datangi. Saya lemah di Pantura, di desa-desa. Keterkenalan saya baru 65 persen, kayak Pak Demiz (Deddy Mizwar) kan keterke­nalannya mencapai 90 persen. Di mana letak ketidakterkenalan saya ternyata di desa-desa. jadi kalo mau menaikkan populari­tas ya di desa-desa. itu hal baru bagi saya," jelasnya. Emil mengakui jika aksi blusukan ke pedesaan menjadi pengalaman baru baginya.

Emil telah berkunjung ke se­jumlah wilayah di Jabar seperti di Purwakarta. Akhir pekan lalu, ia pun blusukan ke Sukabumi. Emil mengaku sangat terharu dengan sambutan meriah warga Sukabumi.

"Kemarin ke Sukabumi, tidak di-setting, tidak saya suruh, tidak saya modalin. Banyak banget, relawan itu tumbuh di mana-mana. jadi ya Alhamdulillah. Berarti ada kerinduan dari kota lain. Belum ada agenda sosial­isasi lagi, kemarin Purwakarta sudah," bebernya.

Pilkada 2018 Digelar 27 Juni

KPU RIsudah menetapkan tanggal pencoblosan Pilkada Serentak 2018. Rencananya, pencoblosan akan digelar 27 Juni tahun depan. Pilkada akan diikuti 171 daerah. Yakni, 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

"Kita ambil keputusan sementarauntuk Pilkada serentak 2018 itu jatuh pada 27 Juni. Jadi set­elah lebaran," kata Komisioner KPU Pramono Ubaid Tantowi di Jalan Nyimas Melati, Kota Tangerang, kemarin.

Pramono menyebut, tahapan Pilkada 2018 akan dimulai 10 bulan sebelum hari pencoblosan. Itu berarti tahapan dimulai Agustus 2017. "Kalau hari H-nya itu Juni 2018, jadi tahapannya itu Agustus tahun ini sudah mulai," sambungnya.

KPU sudah mengevaluasidari pilkada sebelumnya. Di antaranya soal penyusunan peraturan. "Dari situ ada peraturan harus kami sesuaikan, atau dirasakan ada aturan be­lum cukup lengkap, jadi nanti kami gunakan untuk persiapan pilkada berikutnya, gelom­bang berikutnya tahun 2018," ucapnya.

Komisioner KPU Ilham Saputra mengatakan, pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta putaran kedua bisa menjadi pelajaran dan evaluasibagi Pilkada Serentak 2018. Apalagi pilkada serentak tahun depan diikuti 171 daerah dan 17 di antaranya adalah pemilihan gubernur.

"Iya, sebagai evaluasi terkait dengan persoalan teknis teru­tama, petugas kami yang masih salah menafsirkan ketentuan-ketentaun soal logistik termasuk kekurangan logistik. Nah perlu kita coba perbaiki untuk agar tidak terjadi di pilakda 2018," ujarnya.

Ilham menilai Pilkada 2018 tak kalah sensitifnya dibandingkan Pilgub DKI. Pasalnya, banyak provinsi menggelarkan pilkada baik di daerah Sumatera, Jawa, Papua, Bali dan daerah lainnya.

"Tapi akan mengeveluasi terkait dengan persoalan teknis, logistik, hal lain yang perlu kita perbaiki lebih dalam dan lebih detail," ungkap Ilham.

Sementara Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, salah satu yang bisa dijadikan pela­jaran dari Pilgub DKI adalah pengunduhan scan formulir C-1 yang harus dilakukan 1x24 jam di hari pemungutan suara. Jika berhasil dilakukan di Pilgub DKI Jakarta, maka proses pen­gunduhan ini bisa digunakan pada pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019.

"Kalau di DKI Jakarta bisa tercapai, cukup masuk akal kalau 2018 dan 2019 kita tar­getkan 1x24 jam bagi daerah yang punya karakteristik sama dengan DKI Jakarta," kata Arief. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00