Rita Widyasari

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Swasta Kolaborasi Program Pensiun

Nusantara  RABU, 17 MEI 2017 , 19:38:00 WIB | LAPORAN: FERIOLUS NAWALI

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Swasta Kolaborasi Program Pensiun

RMOL

RMOL. BPJS Ketenagakerjaan menggandeng Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) swasta berkolaborasi dalam program pensiun untuk perlindungan hari tua bagi pekerja.
"Ini sifatnya bukan integrasi tapi kolaborasi. Jadi, supaya tidak berjalan sendiri-sendiri bisa disinergikan. Nanti langkahnya bisa kerja sama aspek administratif, benefit atau bundeling product," jelas Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto dalam seminar Program Pensiun di Jakarta, Rabu (17/5).

Seminar Program Pensiun diselenggarakan berkaitan penetapan Hari Pensiun Nasional yang jatuh 20 April 2017 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sejumlah pembicara yang tampil diantaranya Direktur Penyelesaian Perselisihan hubungan Industrial Kemenaker John W Daniel Saragih, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Firdaus Djaelani, dan Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Guntur Witjaksono.

Menurut Agus, seluruh perusahaan wajib menyertakan karyawannya dalam program pensiun dasar yang diselenggarakan BPJS Ketenagakerjaan. Program itu mensyaratkan iuran sebesar tiga persen dari gaji pokok dengan batas maksimal gaji sebesar Rp 7,7 juta.

"Karena itu, kalau ada karyawan bergaji Rp 15 juta kelebihannya bisa mengikuti program top up di Lembaga Dana Pensiun Keuangan (LDPK) yang diselenggarakan swasta," terangnya.

Sampai saat ini, karyawan yang terdaftar dalam program pensiun mencapai 13 juta dari 22,6 juta pekerja yang ikut program BPJS Ketenagakerjaan. Jumlah itu meliputi 106 ribu perusahaan dari sekitar 262 perusahaan berskala menengah yang dinilai memiliki kemampuan finansial ikut program pensiun.

"Mereka yang belum ikut program ini bisa karena ketidakpatuhan perusahaan atau belum mengetahui," katanya.

Untuk itu, Agus mengimbau bagi perusahaan menengah ke atas segera mendaftarkan pekerjanya dalam program pensiun sebagaimana yang diamanatkan perundangan. Sebagai upaya melindungi pekerjanya di hari tua kelak. Agus menambahkan, persiapan keuangan menghadapi masa pensiun sangat diperlukan mengingat kesadaran masyarakat pekerja di Indonesia akan persiapan hari tua yang memadai masih minim.

Menurutnya, kondisi empat negara yang melakukan reformasi jaminan pensiun dan mendapat respon berbeda dari masyarakatnya. Jepang, Korea Selatan serta Yunani dan Brasil merupakan contoh yang penting agar pelaksanaan Jaminan Pensiun di Indonesia dapat berjalan dengan sukses.

Empat negara tersebut menuai protes dari masyarakatnya, namun Korea Selatan dan Jepang dapat mengantisipasi dengan program Komunikasi Pensiun yang efektif, sementara Yunani dan Brasil menuai kericuhan di dalam negeri.

"Sebelum Juli 2015 kata pensiun identik dengan profesi PNS, TNI, POLRI dan pegawai pemerintahan. Tapi pasca berlakunya Jaminan Pensiun pada saat itu, uang pensiun yang memadai bisa didapatkan oleh pekerja swasta juga," kata Agus.

Tren kepesertaan Jaminan Pensiun yang mengalami peningkatan secara signifikan belum dapat dijadikan indikator keberhasilan penerapan Jaminan Pensiun di Indonesia. Pasalnya masih terdapat disharmonisasi regulasi, kurang optimalnya penegakan regulasi dan yang paling utama, minimnya kesadaran pekerja dan pemberi kerja dalam menerapkan Jaminan Pensiun.

Selain itu, iurannya yang sangat rendah dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan program Jaminan Pensiun di Indonesia. Berkaca pada negara-negara di Eropa yang menganut sistem pensiun Manfaat Pasti, iuran Jaminan Pensiun di Indonesia jauh lebih rendah. Saat ini besaran iuran hanya tiga persen dari upah yang dilaporkan, sementara di Eropa, Spanyol misalnya mencapai 28,3 persen yang juga merupakan kontribusi dari pekerja dan pemberi kerja.

"Ini adalah saat yang tepat  mempersiapkan masa pensiun yang baik di masa yang akan datang, karena Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Di mana para pekerja usia produktif masih sangat besar. Kita harus persiapkan sebaik mungkin skema Jaminan Pensiun yang tepat agar di kemudian hari, bonus demografi yang sekarang dinikmati malah menjadi bencana demografi," demikian Agus. [wah]

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Solidaritas Indonesia Untuk Kuba

Solidaritas Indonesia Untuk Kuba

, 23 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Baznas Ajak Berdonasi Sambil Belanja

Baznas Ajak Berdonasi Sambil Belanja

, 22 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Persiapan HUT TNI

Persiapan HUT TNI

, 23 SEPTEMBER 2017 , 03:40:00

Tes Urine Di Kemang

Tes Urine Di Kemang

, 23 SEPTEMBER 2017 , 04:14:00