Hanura

Langkah Signifikan Penurunan Gas Rumah Kaca

 SELASA, 08 AGUSTUS 2017 , 14:59:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

RMOL. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengusulkan upaya penurunan gas rumah kaca (GRK) hingga 21 persen dalam industri peternakan, dengan menggunakan tanaman Lamtoro atau Leucaena Leucocephala dan atau Legum pada umumnya. Hal itu merupakan langkah cepat dan masif yang dapat dilakukan pemerintah dengan menggandeng peternak.
"Dengan mencampur tanaman Lamtoro minimal 12 persen dan tidak lebih dari 60 persen dalam ransum ternak maka paling tidak bisa menurunkan tingkat gas rumah kaca hingga 21 persen. Secara umum, tanaman legum dapat menjadi substitusi material yang berfungsi sama seperti adanya lamtoro dalam ransum," jelas Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Kerja sama Fapet UGM Bambang Suwignyo dalam keterangannya, Selasa (8/8).

Dia menjelaskan, pakan ternak berserat dan rendah nurisi akan memacu produksi metana, baik oleh bakteri metanogenik maupun protozoa, sehingga menyumbang peningkatan GRK. Penelitian yang telah dipublikasi pada jurnal internasional tercatat bahwa bakteri methanogen dan protozoa yang hidup di dalam rumen atau bagian perut hewan ruminansia mungkin bertanggung jawab atas hingga 37 persen emisi metana rumen. Tingginya produksi metana juga representasi kehilangan energi atau inefisiensi pada ternak yang berarti juga kerugian ekonomi.

Bambang menerangkan bahwa metana dianggap sebagai salah satu sumber GRK yang memiliki potensi terbesar, selain nitrous oxide (N2O) dan karbondioksida (CO2). Metana berdaya 21 kali lebih kuat daripada CO2 sebagai GRK, 1 kilogram metana setara dengan 21 kilogram CO2. Metana yang dipancarkan dari sektor peternakan menyumbang 38 persen dari semua emisi gas rumah kaca di Kanada, dan 17,7 persen di Australia.

"Sekitar 15 sampai 20 persen hasil pemanasan iklim disebabkan oleh metana. Karena itu, upaya penurunan GRK dari sektor peternakan menjadi sangat penting diwujudkan melalui sistem produksi yang ramah lingkungan," ujarnya.

Data pemerintah mencatat, dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan Bali Action Plan pada The Conferences of Parties(COP) ke-13 United Nations Frameworks Convention on Climate Change dan hasil COP-15 di Copenhagen dan COP-16 di Cancun serta memenuhi komitmen pemerintah dalam pertemuan G-20 di Pittsburg, penurunan emisi GRK ditargetkan sebesar 26 persen dengan usaha sendiri, dan sebesar 41 persen jika mendapat bantuan internasional pada 2020. Dari kondisi tanpa adanya rencana aksi.

Sementara, sektor peternakan berkontribusi pada peningkatan kualitas kehidupan manusia. Diantaranya, ternak menambah nilai sejumlah sumber daya yang tidak dapat dimanfaatkan oleh keluarga petani, seperti biomassa yakni gulma, jerami jagung, pakan ternak, area penggembalaan umum, butiran surplus, dan lain-lain.

"Termasuk dengan mengubahnya menjadi produk berharga seperti daging, susu, telur, investasi dan biogas. Serta memberikan kontribusi pada ekonomi rumah tangga. Karena itu, penggunaan tanaman Lamtoro dan Legum yang dicampur dalam pakan ternak merupakan usulan konstruktif Fapet UGM untuk menurunkan GRK secara signifikan," demikian Bambang. [wah]


Komentar Pembaca
Jokowi Berupaya Mengunci Mitra Koalisi
Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

, 20 JULI 2018 , 13:00:00

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Salam Komando Demokrat-PDIP

Salam Komando Demokrat-PDIP

, 14 JULI 2018 , 03:59:00

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

, 17 JULI 2018 , 21:28:00