Rita Widyasari

Satu-Satunya Profesor Lukis Tanah Liat Berasal Dari Makassar

Nusantara  SENIN, 21 AGUSTUS 2017 , 16:20:00 WIB | LAPORAN: TANGGUH SIPRIA RIANG

Satu-Satunya Profesor Lukis Tanah Liat Berasal Dari Makassar

Pelukis Tanah Liat/RMOL

RMOL. Tak ada akar, rotan pun jadi. Mungkin, pepatah itu, cocok di sematkan kepada pelukis asal Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Zainal Beta.
Jika pelukis pada umumnya menggunakan cat minyak, pria berusia 57 tahun itu justru menggunakan tanah liat.

Sehingga, wajar jika dirinya disematkan sebagai salah satu dari 72 Ikon Prestasi, Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

"Saya sudah 37 tahun melukis pakai tanah liat. Sudah pernah ikut pameran di beberapa negara di dunia," ungkap Zainal saat menjadi salah satu peserta acara Festival Prestasi Indonesia (FPI) di JCC, Jakarta Pusat, Senin (21/8).

Keahlian tersebut, diakui oleh University of California. Bahkan, pelukis senior nasional, Affandi, menjulukinya sebagai seorang Profesor. Tepatnya, saat pria tamatan SMP itu menggelar pameran Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusar, tahun 1986 silam.

"Saya (Affandi) saja cuma doktor. Kamu itu profesor. Karena telah menemukan teknik baru," kenang Zainal menirukan ucapan Affandi saat itu.

Padahal, sebelum disematkan gelar istimewa dari Affandi, banyak seniman lukis mempertanyakan teknik yang digunakan Zainal.

Teknik tersebut, sempat diperagakan oleh Zainal di hadapan pengunjung FPI di JCC. Tanah liat yang menjadi media lukis, dibasahkan. Namun,  disesuaikan agar tidak terlalu padat dan juga tidak terlalu cair.

Kemudian tanah liat itu dilumurkan ke kanvas atau kertas ke kanvas hingga merata. Setelah itu, tangan dan jari Zainal menari bebas di atas lumuran tanah liat sesuai imajinasinya.

Hingga akhirnya, menghasilkan bentuk objek yang telah dikonsep sebelumnya.

Meski demikian, menurut Zainal, tanah liat yang digunakan tidak sembarangan. Ada beberapa pilihan tanah liat dari 24 kabupaten dan kota di Sulsel. Pasalnya, setiap tanah liat, lanjutnya, memiliki karakter masing-masing. Sesuai dengan kebutuhan untuk menyalurkan imajinasinya.

Selain itu, Zianal mengaku tidak bisa menggunakan tanah liat dari luar wilayah Sulsel. Alasannya, beberapa diantara tanah liat, terlalu keras dan warnanya tidak sesuai harapan

"Bahan baku tanah liat yang bagus dari Toraja dan Mamuju. Tanahnya bagus, ada corak warna bervariasi. Ada kuning, kemerahan, cokelat dan lainnya," terang Zainal.

Zainal mengaku, tidak ada keturunan seni apalagi melukis dalam silsilah keluarganya. Kemampuan tersebut didapatnya secara otodidak saat masih kanak-kanak. Mulai dari menggambar tembok dengan arang atau kapur. Hingga tanah berlumpur yang diratakan lalu digambar.

"Jadi, saya sejak kecil menggambar pakai apa saja. Kadang pakai arang, tidak ada arang pakai kapur, lalu tanah juga saya lukis," ungkapnya.

Suatu ketika, Zainal kecil bermaksud mendapat informasi terkait perlombaan melukis di daerah asalnya. Dirinya pun sempat berhasrat untuk berpartisipasi dalam perlombaan tersebut.

Saat itu, Zainal ditolak panitia karena tidak memiliki cat untuk melukis. Ia pun pulang dengan beberapa kertas putih kosong ditangannya. Diperjalanan pulang, kertas tersebut sempat terjatuh ke tanah berlumpur. Sehingga membuat kertasnya pun berwarna cokelat.

Setiba di rumah, Zainal justru berkreasi dan menggambar sesuatu di atas kertas yang dipenuhi lumpur.

Sejak saat itu, dirinya pun fokus menggunakan tanah liat untuk dijadikan bahan baku cat lukisnya.

Kini, sebuah lukisan berukuran 30x40cm dari bahan kertas foto, dihargai Rp 500 ribu. Dengan ukuran yang sama dari medium kanvas, lukisannya dibanderol Rp 1 juta.

Bahkan, pernah suatu ketika, saat pameran di Eropa, lukisan instant-nya di depan pengunjung ditawar langsung Rp 25 juta. "Waktu itu ada orang Jerman yang tawar. Saya lepas Rp 10 juta, eh malah ditawar lebih tinggi, jadi Rp 25juta," tuturnya.

Terkait motif yang dilukis, Zainal kerap menvisualisasikan kehidupan rakyat jelata. Mulai dari representasi kehidupan sosial hingga aktifitas masyarakat di perkampungan dan pedesaan.

"Supaya nanti, orang-orang di masa depan yang lihat lukisan saya, bisa tahu zaman dulu ada becak, olahraga rakyat, petani, dan lainnya," demikian Zainal.

Selain Zainal, acara FPI yang bertema "Pancasila Inspirasi Maju" di JCC juga dimeriahkan oleh puluhan Ikon Prestasi lainnya. Mulai dari seniman, olahragawan, sineas, aktivis lingkungan, sastrawan, dan beberapa peraih ikon prestasi lainnya.[san]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Siapa Berani Lawan Gatot?

Siapa Berani Lawan Gatot?

, 19 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Biaya Kampanye Tinggi, Korupsi Merajalela

Biaya Kampanye Tinggi, Korupsi Merajalela

, 19 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Stop Kekerasan Pada Rohingya

Stop Kekerasan Pada Rohingya

, 17 SEPTEMBER 2017 , 06:50:00

Aksi Bela Rohingya

Aksi Bela Rohingya

, 17 SEPTEMBER 2017 , 02:29:00

Barang Bukti OTT Batu

Barang Bukti OTT Batu

, 17 SEPTEMBER 2017 , 20:16:00