Rita Widyasari

Peternakan Negara Tropis Tingkatkan Kedaulatan Pangan

Nusantara  RABU, 13 SEPTEMBER 2017 , 16:29:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

RMOL. Peternakan di negara-negara tropis secara signifikan mampu meningkatkan kedaulatan pangan.
"Peran peternakan di negara-negara tropis menjadi penting untuk membangkitkan kemandirian karena fungsi peternakan sebagai tabungan, akumulasi modal. Serta untuk menyuplai input bagi tanaman pangan melalui produksi kotoran yang dapat diolah menjadi pupuk," jelas Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ali Agus dalam keterangannya, Rabu (13/9).

Menurutnya, upaya mengukur kontribusi peternakan pada kedaulatan pangan di negara-negara tropis sangat penting untuk mengidentifikasi keunggulan dan daya saing komoditas dan produk turunannya. Prof. Ali menunjukkan bahwa para petani di negara tropis tidak memiliki kekuatan mengontrol mekanisme produksi pangan dan kebijakannya. Hal ini disebabkan petani di daerah tropis seringkali dicirikan dengan skala usaha yang kecil dan subsisten.

Hewan ternak telah melekat pada kehidupan petani kecil di negara-negara tropis. Karena itu, melibatkan rumah tangga petani kecil dalam mekanisme produksi dan kebijakan berarti ikut mengamankan kedaulatan pangan sebuah negara.

Rektor UGM Prof. Panut Mulyono menambahkan, dalam pengertian yang lebih komprehensif, kedaulatan pangan tidak hanya diartikan sebagai ketersediaan pangan tetapi juga akses terhadap pangan yang berbasis potensi lokal.

"Indonesia dan negara-negara tropis lain kaya akan sumber daya ternak lokal dan keanekaragaman ternak. Ini adalah aset potensial yang berguna dalam pasar domestik maupun internasional di masa mendatang," katanya.

Namun, di negara-negara tropis produksi ternak masih dijalankan oleh peternak kecil.

"Permasalahan-permasalahan seperti tidak seimbangnya supply dan demand produk ternak tropis di pasar, kapasitas dan kapabilitas peternak yang masih rendah. Dan kurangnya inovasi dan teknologi menjadi tantangan bagi tercapainya kedaulatan pangan," beber Prof. Panut.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut diperlukan sinergi antara pada stakeholders yaitu pemerintah, peternak, masyarakat, peneliti, dan akademisi. [wah] 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Siapa Berani Lawan Gatot?

Siapa Berani Lawan Gatot?

, 19 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Biaya Kampanye Tinggi, Korupsi Merajalela

Biaya Kampanye Tinggi, Korupsi Merajalela

, 19 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Stop Kekerasan Pada Rohingya

Stop Kekerasan Pada Rohingya

, 17 SEPTEMBER 2017 , 06:50:00

Aksi Bela Rohingya

Aksi Bela Rohingya

, 17 SEPTEMBER 2017 , 02:29:00

Barang Bukti OTT Batu

Barang Bukti OTT Batu

, 17 SEPTEMBER 2017 , 20:16:00