Hanura

Emil-Uu, Muda & Nyantri Dua; DM, Islam & Nyunda

Pertarungan Di Jawa Barat (1)

 RABU, 10 JANUARI 2018 , 08:38:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Emil-Uu, Muda & Nyantri Dua; DM, Islam & Nyunda

Prof Asep Warlan Yusuf/Net

Oleh: Prof Asep Warlan Yusuf
Jika Pilkada Jawa Barat digelar hari ini, saya prediksi pemenangnya antara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi atau Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum. Dua pasang kandidat ini, secara ketokohan memiliki popularitas paling tinggi.

Indikatornya adalah sejumlah hasil survei. Menurut Poltracking Indonesia, Kang Emil atau Ridwan Kamil berada di puncak dengan 24,2 persen disusul Demiz atau Deddy Mizwar dengan 7,1 persen. Pun di survei SMRC, Kang Emil paling atas dengan elektabilitas 34,1 persen. Disusul Demiz dengan 15,5 persen.

Tapi menghitung Jabar tidak bisa sekasat mata begitu. Provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak se-Indonesia, sekitar 35 juta pemilih ini punya sejarah menarik soal pemilu. Di Pileg 2014, PDIP tampil sebagai juara dengan meraih 18,95 persen suara dengan raihan 20 kursi DPRD Jabar.

Tapi, selang tiga bulan berikutnya, di Pilpres 2014, Prabowo-Hatta unggul dengan perolehan suara 14.167.381 atau 59,78 persen. Sementara itu, pasangan Jokowi-JK mendapat suara 9.530.315 atau 40,22 persen.

Tawaran politisi di Pilgub Jabar saat ini cukup banyak. Ada empat pasang. Selain Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. Ada Sudrajat-Syaikhu, dan TB Hasanudin-Anton Charliyan.

Kita kupas Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum lebih dahulu. Tadi saya sebut sebagai pemenang jika pemilihan digelar hari ini. Hitungannya begini, Emil unggul karena sudah dikenal luas. Sebagai Walikota Bandung, dia unggul di pemilih muda dan pemula. Media juga banyak beritakan Emil.

Nah, wakilnya, Uu Ruzhanul Ulum sebagai Bupati Tasikmalaya dua periode, populer dikalangan santri. Basisnya, Nahdliyin. Saya kira, Emil akan bertugas di Jabar bagian barat seperti Bandung, Bekasi, dan Bogor. Sedangkan wakilnya dibagian timur (Tasikmalaya Ciamis Garut).

Masalahnya, walaupun ketokohan Emil-Uu kuat, mesin partai mereka bisa dibilang tidak sekuat lawan. Dukungan Nasdem, PKB, PPP, dan Hanura sekalipun ditotal merai 24 kursi DPRD, di akar rumput kalah solid dengan PKS.

Di basis PKS seperti di Bogor dan Bekasi, jika Ahmad Heryawan (Aher) turun, hanya bermodalkan popularitas Emil bisa lewat. Nah ini yang harus dibenahi Emil-Uu, soal mesin partai.

Berlanjut ke pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM). Jika pemilunya hari ini, saya kira hanya kalah tipis dengan Emil-Uu. Deddy-Dedi, sudah sangat populer di Jabar. Demiz merupakan pertahana dengan jabatan sebelumnya Wakil Gubernur, dan Dedi Mulyadi adalah Bupati Purwakarta.

Hasil survei juga menempatkan Demiz selalu mengekor di bawah Emil. Di tambah, Demiz lebih dahulu turun gunung. Setiap akhir pekan dia menyapa pelosok Jabar. Partainya pendukungnya pun lumayan. Demokrat dan Golkar dengan 29 kursi DPRD.

Tapi pasangan ini juga punya catatan. Demiz sebelumnya 'ditokohkan' sebagai sosok pemimpin Islami oleh sejumlah ormas bahkan partai Islam, termasuk PKS. Belakangan, Demiz justru berduet dengan Dedi Mulyadi, yang dikenal agak klenik, Nyunda. Nah, ini adalah ajang pembuktian. Nanti masyarakat Jabar sendiri yang menilai.

Pasangan berikutnya adalah Sudrajat-Syaikhu yang diusung koalisi Gerindra-PKS-PAN. Secara umum, popularitas individu keduanya kurang 'menjual'. Sudrajat merupakan pensiunan jenderal pilihan Prabowo Subianto, dan Ahmad Syaikhu merupakan Wakil Walikota Bekasi. Keduanya kurang populis.

Tapi, pasangan ini punya mesin partai yang hebat. Utamanya PKS. Di Jabar bagian barat, partai ini dominan. Slogan memperjuangkan partai sebagai jihad, membuat kader PKS militan. Apalagi, jika Aher dan Prabowo Subianto ikut berkampanye.

Buktinya, Pilpres lalu Prabowo menang di Jabar. Tapi ini Pilgub, bukan Pilpres. Sifatnya lebih lokal, dan memilih orang, bukan partai. Tapi, masih ada 5 bulan lagi jelang pemilihan. Jika mesin partai ini secara instan bisa mempopulerkan Sudrajat-Syaikhu, bisa saja menang.

Terakhir pasangan TB Hasanudin- Anton Charliyan yang didukung PDIP dengan 20 kursi DPRD. Ini kandidat yang paling berat. Duet TNI-Polri ini, sangat tidak menjual di Jabar. Masalah keamanan sangat tidak menarik untuk dijual. Masyarakat Jabar lebih ingin jawaban kesejahteraan terukur.

Sosok militer, sekalipun plus polisi sulit mengangkat simpati masyarakat. Sejarah mencatat, di Pilgub Jabar 2008 ada Jenderal Sulanjana sebagai wakilnya Danny Setiawan masih kalah dengan duet sipil Aher-Demiz. Pun di tahun 2014, Jenderal Polisi Dikdik Mulyana kalah dengan sosok sipil.

Artinya, sosok militer atau polisi terbukti bukan alasan warga Jabar untuk memilih. Jadi, perlu kerja lebih keras bagi TB-Anton untuk meraih simpati masyarakat. Termasuk, secara popularitas keduanya kurang populis di Jabar.

TB, jauh lebih negetop di Jakarta ketimbang di Jabar. Ibaratnya, majelis taklim ibu-ibu banyak yang belum mengenalnya. Sementara Anton Charlian punya catatan 'gorengan' aksi 212. Di mana terjadi bentrokan di Jabar antara ormas lokal dengan FPI.

Nah, tinggal kita lihat cara empat pasang calon ini mengisi waktu lima bulan ini. Utamanya soal rencana program kerja yang hingga kini belum ada. Siapa yang pintar mendongkrak jagoannya dan menjaga momentum, dialah pemenangnya. ***

Komentar Pembaca
Jokowi Berupaya Mengunci Mitra Koalisi
Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

, 20 JULI 2018 , 13:00:00

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Salam Komando Demokrat-PDIP

Salam Komando Demokrat-PDIP

, 14 JULI 2018 , 03:59:00

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

, 17 JULI 2018 , 21:28:00