Hanura

Pemimpin "Tunggal Sabahita" Akan Membawa Rakyat Ke Pulau Harapan

 KAMIS, 11 JANUARI 2018 , 16:59:00 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pemimpin "Tunggal Sabahita" Akan Membawa Rakyat Ke Pulau Harapan

Suhendra Hadi Kuntono/Net

RMOL. Warga teturunan Jawa yang tergabung dalam Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) yang tersebar di seantero nusantara dihimbau untuk memenangkan calon kepala daerah yang senasib sepenanggungan dalam Pilkada serentak 2018.
"Dengan memegang teguh falsafah 'tunggal sabahita' atau tunggal sekapal," kata Ketua Umum Puja Kessuma, Suhendra Hadi Kuntono, di Jakarta, Kamis (11/1).

'Tunggal', jelas Suhendra, adalah satu, dan 'sabahita' adalah perahu atau kapal laut, sehingga 'tunggal sabahita' berarti kebersamaan dalam satu kapal. Replika 'bahita' terpahat di relief Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Suhendra lalu merujuk sejarah orang-orang Jawa yang "dibuang" ke Sumatera oleh pemerintah kolonial Belanda secara bergelombang sejak 1880 menggunakan kapal laut untuk kerja paksa. Di Sumatera, dan kemudian juga di Sulawesi, Maluku dan pulau-pulau lain di Indonesia, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya dan Madagaskar, mereka beranak-pinak, dan memiliki ikatan persaudaraan yang tinggi untuk bertahan hidup di perantauan, dan rasa persaudaraan itu sama seperti saudara kandung yang kemudian diturunkan ke anak-cucu.

"Kita selalu merasa senasib sepenanggungan, ibarat berada di sebuah kapal," jelas keturunan Jawa kelahiran Medan, Sumatera Utara, 50 tahun lalu ini.

Sebagai bangsa yang hidup di negeri maritim, kata Suhendra, nenek-moyang kita memang dikenal sebagai pelaut ulung. Sebab itu, 'sabahita' pun dimaknai sebagai hidup mati bersama, apapun masalahnya harus dihadapi bersama. Apapun permasalahan antar-pribadi yang muncul di atas 'sabahita', harus diselesaikan di daratan, jangan sampai mengganggu kebersamaan mereka di lautan.

"Pemimpin yang menghayati makna 'tunggal sabahita' akan mampu membawa rakyat ke pulau harapan," cetus Suhendra yang juga mantan Ketua Tim Penyelesaian Pelanggaran HAM Indonesia-Vietnam.

Ciri khas Puja Kessuma adalah gotong-royong, ikatan persaudaraan yang kuat, dan daya survival yang tinggi. Untuk itu, pilihlah kepala daerah yang memiliki sifat demikian, apapun etnis dan agamanya. Bila bicara Puja Kessuma maka sama sekali tidak bermuatan primordialisme atau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Sebab, Puja Kessuma adalah organisasi yang terbuka bagi etnis dan agama apa pun, yang penting mencintai budaya dan nilai-nilai Jawa seperti andhap asor (sopan santun), gotong-royong, tepa selira (persaudaraan), kerukunan, senasib sepenanggungan, dan sebagainya.

"Kepala daerah yang andhap asor, tepa selira, daya survivalnya tinggi dan suka gotong-royong tentu akan sangat mampu membangun daerah dan rakyatnya," lanjut dia dalam keterangan tertulisnya.

Untuk itu, ia tidak mau menunjuk calon kepala daerah mana yang Puja Kessuma, karena yang lebih penting adalah mereka mampu mengimplementasikan makna 'tunggal sabahita'. "Syukur-syukur bila secara biologis mereka memang Puja Kessuma," terangnya.

Potensi Puja Kessuma untuk memenangkan kandidat dalam pilkada, lanjut Suhendra, cukup besar. Di Sumatera, jumlah keturunan Jawa mencapai lebih dari 50 persen penduduk. "Ini bargaining position yang luar biasa. Kalau kompak, kita akan menang," paparnya.

"Sekali lagi, ini bukan soal primordialisme atau SARA. Sebagai warga negara yang punya hak pilih, boleh dong kita punya aspirasi tentang kriteria pemimpin. Apa pun etnis dan agamanya, asal kandidat itu menghayati makna 'tunggal sabahita', ia akan mampu menjadi nahkoda yang baik, sehingga kita pilih," tutup Suhendra menambahkan. [rus]

Komentar Pembaca
Jokowi Berupaya Mengunci Mitra Koalisi
Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

, 20 JULI 2018 , 13:00:00

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Salam Komando Demokrat-PDIP

Salam Komando Demokrat-PDIP

, 14 JULI 2018 , 03:59:00

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

, 17 JULI 2018 , 21:28:00