Hanura

Petahana Ngada Butuh Duit Untuk Kampanye Pilkada

PDIP Cabut Pencalonan Marianus Sae

 SELASA, 13 FEBRUARI 2018 , 11:41:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Petahana Ngada Butuh Duit Untuk Kampanye Pilkada

Marianus Sae/Net

RMOL. Bakal calon Gubernur Nusa Tengga Timur (NTT) Marianus Sae gagal maju di Pilgub 2018. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Ngada ini sebagai tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) kasus dugaan suap. PDIP pun cabut dukungan ke Marianus.
 Diketahui, Bupati Ngada Marianus Sae pada Minggu 11 Februari 2018 terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Marianus diduga menerima suap terkait proyek-proyek di lingkungan Pemkab Ngada yang dikerjakan Direktur PT Sinar 99 Permai, Wilhelmus Iwan Ulumbu (WIU) selaku kontrak­tor. WIU diduga memberikan suap sebesar Rp 4,1 miliar baik secara tunai maupun transfer ke rekening bank yang kartu ATM-nya diserahkan kepada Marianus.

Marianus Sae tercatat sebagai calon Gubernur NTT berpasan­gan dengan Emmilia Nomleni. Pasangan ini diusung PDIP dan PKB. Mirisnya, sehari jelang penetapan calon, pada Senin (12/2), Marianus Sae dicokok KPK.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, mengatakan, suap diterima Marianus Sae diduga untuk biaya kampanye.

"Prediksi tim kita kemungki­nan besar dia butuh uang untuk itu (kampanye).Tapi apakah itu pasti untuk ke sana kita belum bisa mengatakan karena kita belum menerima, belum men­emukan jalurnya. Ttapi prediksi dari tim tadi sudah mengatakan kalau bersangkutan balon (bakal calon) Gubernur. Sudah barang tentu memerlukan dana banyak. Itu kira-kira,"  ujar Basaria di Gedung KPK Jakarta, kemarin.

Sementara itu, Marianus Sae tidak hadir pada penetapan calon Gubernur NTT, kemarin. Penyerahan surat keputusan (SK) penetapan untuk pasangan calon hanya dihadiri Emilia Nomleni, calon calon Wakil Gubernur NTT, pendamping Marianus.

Emi hadir mengenakan baju kebaya putih dengan rok tenun khas NTT. Saat mengambil SKpenetapan, Emi Nomleni diwak­ili partai pengusung PKB.

Akhirnya, KPUmenetap­kan empat pasangan calon Gubernur NTT. Yakni, Esthon Foenay-Christian Rotok (di­usung Geridnra dan PAN), Marianus Sae- Emi Nomleni (diusung PDIP dan PKB), Benny KHarman-Benny Litelnoni (diusung PKPI dan PKS) serta Viktor Laislodat-Joseph Nai Soi (diusung Golkar, Nasdem, Hanura dan PPP).

Bagaimana tanggapan par­tai pengusung pasangan Marianus Sae-Emi Nomleni? PDI Perjuangan sebagai partai pen­gusung Marianus Sae langsung bersikap tegas dan mencabut dukungan pencalonan Marianus. "PDIP sikapnya konsisten dan tidak mentolerir korupsi. Artinya partai bersikap tegas dan tidak akan melanjutkan dukungan kepa­da yang bersangkutan (Marianus Sae)," jelas Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, kemarin.

Dengan pencabutan dukungan kepada Marianus itu, kata Hasto, maka calon Wakil Gubernur Emiliana Nomleni menjadi re­fresentasi PDIP. "Hal ini dilaku­kan karena berdasarkan undang-undang, pergantian pencalonan Marianus Sae sudah tidak bisa dilakukan lagi," jelasnya.

Hasto sangat menyesalkan peristiwa OTTitu dan berjanji akan secepatnya memproses pelanggaran disiplin itu. "Saya baru pulang dari konsolidasi di NTT selama tiga hari. Selama saya di NTT, Marianus keliling ke kampung kampung dengan trail dan tidak pernah sekalipun hadir dalam acara konsolidasi itu,"  jelas Hasto.

Hasto menegaskan, partainya berulangkali mengingatkan se­cara tegas, siapapun melakukan korupsi akan dipecat. "Banyak yang mengambil jalan pintas korupsi untuk membiayai pilka­da. PDIP selalu mengedepankan strategi gotong royong, dengan harapan biaya politik bisa di­tekan dan meringankan beban calon," paparnya.

Sedangkan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) masih memper­timbangkan menarik dukungan kepada Marianus Sae sebagai calon Gubernur NTT. "PKB Nusa Tenggara Timur masih mempertimbangkan menarik dukungan terhadap Marianus Sae," kata Ketua DPW PKB NTT Yucundianus Lepa.

Yucun mengaku, sebagai par­tai pengusung sangat terpukul dengan peristiwa tertangkapnya Marianus Sae. Tapi, pihaknya masih menghormati asas pra­duga tak bersalah. "Kami sangat prihatin dengan peristiwa ini. PKB pasti akan segera mengam­bil sikap dan keputusan setelah ada keputusan dari KPU."

Sebelumnya, Bupati Ngada Marianus Sae tercatat pernah memerintahkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk memblokir Bandara Turelelo Soa.

Perintah ini muncul akibat Marianus tidak mendapat tiket pesawat Merpati Nusantara Airlines rute Kupang-Bajawa. Tindakan kontroversial itu dilakukan Marianus pada 21 Desember 2013. Akibat tinda­kan itu, pesawat Merpati rute penerbangan Kupang-Bajawa yang mengangkut 54 penump­ang tidak bisa mendarat. Pesawat itu akhirnya terpaksa kembali ke Bandara El Tari, Kupang.

Demikian pula dengan pesa­wat Merpati nomor penerbangan 6516 dari Kupang-Soa batal mendarat di Bandara Turelelo- Soa. Bandara ini diblokade mulai pukul 06.15 Wita hingga pukul 09.00 Wita. *** 

Komentar Pembaca
25 Hal Tentang Menteri Amran

25 Hal Tentang Menteri Amran

, 19 APRIL 2018 , 17:00:00

Sahabat Rocky Gerung Melawan!

Sahabat Rocky Gerung Melawan!

, 19 APRIL 2018 , 11:00:00

Di Tengah Cakra Buana

Di Tengah Cakra Buana

, 15 APRIL 2018 , 10:57:00

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

Spanduk #2019GantiPresiden Terbesar

, 19 APRIL 2018 , 01:12:00

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

Solidaritas Untuk Rocky Gerung

, 17 APRIL 2018 , 21:28:00