Hanura

Rini: Kita Harus Empati, Kerja Ikhlas & Semangat...

 SELASA, 13 MARET 2018 , 11:26:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rini: Kita Harus Empati, Kerja Ikhlas & Semangat...

Rini Soemarno/RM

RMOL. Di Kabinet Kerja, Rini Soemarno, salah satu menteri yang amat dipercaya Presiden Jokowi. Tegas dan pemberani. Tapi saat bicara, suaranya lembut keibuan.
Sebagai Menteri BUMN, Rini turut bekerja keras mewujudkan sejumlah program untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, kemandirian ekonomi dan termasuk menjaga tidak terjadi disparitas harga hingga ke pelosok Indonesia. Rini adalah arsitek program Sinergi BUMN Hadir Untuk Negeri. Bagaimana program itu dijalankan? Apa hambatan dan kesulitannya? Sebagai Kuasa Pemegang Saham di seluruh perusahaan plat merah, Rini Soemarno mengingatkan, perusahaan negara adalah agen pembangunan sehingga harus ikut membantu masyarakat.

Berikut ini wawancara tim Rakyat Merdeka, yaitu Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Fajar El Pradianto dengan Rini Soemarno, Selasa (6/3) di sela kunjungan ke Kupang, NTT.

Menteri BUMN sering turun langsung ke masyarakat, menjalankan banyak program kerakyatan, termasuk misalnya mengecek BBM Satu Harga. Bagaimana perkembangannya dan apa saja kendala yang dihadapi?
Ini program yang harus dijalankan. Pertamina harus ingat sebagai perusahaan negara yang juga menjadi agen pembangunan, jadi harus membantu masyarakat. Bila masyarakat membutuhkan harga BBM tidak naik, lalu Pemerintah tidak bisa melakukan melalui struktur subsidi, ya Pertamina harus kerjakan. Itu bagian dari fungsi kita, sebagai agen of development.

Nah saya, Kementerian BUMN yang bertanggung jawab atas kesehatan Pertamina, tentu akan tetap menjaga itu. Kita mencarikan jalan, agar keuntungan Pertamina tetap baik. Mungkin (keuntungan) turun, tapi kan tetap untung. Perusahaan masih sehat, masih bisa bayar pinjaman, masih bisa membayar karyawan. Sekarang saya mendengar, banyak titik yang premiumnya tidak ada. Nah, ini saya mau cari penyebabnya.


Zaman sudah modern, canggih, sudah digital. Nggak masuk akal, bahwa kita nggak tahu, di SPBU ini, berapa yang kita jual tiap detik. Makanya, saya keras saat melakukan restrukturisasi. Saya menekankan, ada pembagian kerja direksi. Yang utama, hilir dipimpin satu direktur, karena tanggungjawabnya banyak dan harus ke lapangan terus. Juga ketersediaan elpiji atau gas melon. Padahal sekarang kan bisa pakai barcode ya. Sehingga bisa ketahuan semua itu kemana. Saya sudah tekankan ke Manajemen Pertamina. Ini harus dikerjakan. Jadi, saya tolong diingatkan terus, BBM Premium langka dimana, LPG langka dimana. Saya banyak ke lapangan, dan laporannya cukup memprihatinkan.


Pada 13 Februari lalu, Kementerian BUMN mengumumkan restrukturisasi organisasi di Pertamina. Direktorat Gas dihapus, Perseroan memperkuat struktur organisasi hilir dengan memecah Direktorat Pemasaran menjadi Pemasaran Ritel dan Pemasaran Korporat, serta Direktorat Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur termasuk menangani Energi Baru Terbarukan.

Bagaimana dengan keuntungan Pertamina yang berkurang?
Memangnya kenapa kalau keuntungan berkurang? Impactnya kepada siapa? Kepada pemegang saham kan? Manajemen sudah digaji bagus, tantiem bagus, bonus dapat. Itu tetap saya jaga. Keuntungan berkurang kepada pemegang saham. Dan kami adalah pemegang saham. Kita bicara sama Kementerian Keuangan, saat ini devidennya masih bisa karena keuntungan bagus di tahun 2017. Untuk 2018, keuntungan berkurang lagi, tapi devidennya, kami mohon tolong sama Kemenkeu, dan Ibu Menkeu menyadari hal ini. Kita semua berpikir sinergi, dan bagaimana agar Pertamina tetap sehat.

Jadi, saya sedih, mengapa ada yang mengeluh. Padahal yang kita lakukan untuk rakyat. Bukannya kita harus empati pada masyarakat? Saya selalu menekankan pada semua Dirut BUMN. Eh, Bapak-bapak, Ibu-ibu, ini bukan perusahaan anda. Ini perusahaan negara, milik rakyat. Karena itu, rakyat harus merasakan keberadaan kita.

Dirut BUMN lain, saya minta pasang-pasang BTS sampai di pelosok, misalnya, itu tidak murah dan mengurangi keuntungan. Tapi mereka tidak mengeluh. Saya mengatakan kepada Dirut Telkon, ini untuk bangsa kita. Kalau konektifitas secara fisik tidak terjadi, ya minimal komunikasi bisa dilakukan. Rakyat bisa menelpon, bisa menawarkan barang, berjualan, dan seterusnya, dari ujung pulau satu ke pulau lain. Juga kepada BUMN lain, PT Pos, Damri dan Garuda. Agar masyarakat bisa mengirim barang kemana-mana, butuh komunikasi di mana-mana. Makanya butuh BTS, sampai ke Sorong, Asmat. Itu mengangkat BTS-nya saja ke lokasi itu, pasti setengah mati. Tapi saya senang, mereka tidak mengeluh. Juga PLN.

Dirutnya saya minta listrik disambungkan kemana-mana. Saya lihat di video, mereka mengangkat trafo, di pelosok-pelosok, tapi mereka tetap semangat dan ikhlas. Karenanya, (kalau ada yang mengeluh) saya bingung. Bukankah, kita harusnya bersyukur, diberikan jalan, diberi kesempatan oleh Tuhan YME untuk membantu orang lain. Itu berkah buat kita karena belum tentu kita punya kesempatan seperti itu.
*** (Bersambung)


Komentar Pembaca
Rocky Gerung - Pembangunan (Bag.5)

Rocky Gerung - Pembangunan (Bag.5)

, 17 MEI 2018 , 20:00:00

Rocky Gerung - Kelincahan Berfikir (Bag.4)
Prabowo Datangi Parlemen

Prabowo Datangi Parlemen

, 16 MEI 2018 , 17:38:00

Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Terima Alumni 212

Terima Alumni 212

, 16 MEI 2018 , 18:06:00