Hanura

Tekan Jumlah Perokok, Indonesia Harus Belajar Dari Negara Maju

 SENIN, 04 JUNI 2018 , 05:08:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

Tekan Jumlah Perokok, Indonesia Harus Belajar Dari Negara Maju

Foto: Net

RMOL Setiap tahun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingati tanggal 31 Mei sebagai Hari Anti Tembakau.
Melalui kampanye ini, WHO fokus pada upaya menekankan dampak buruk kesehatan yang disebabkan oleh hasil pembakaran tembakau sembari mengadvokasi kebijakan efektif untuk menurunkan jumlah perokok. Tahun ini WHO mengangkat tema 'Tembakau dan Penyakit Jantung.'

Dalam ilmu kedokteran, penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan bagian dari kardiovaskular. Penyakit ini disinyalir masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Bahkan, WHO memprediksi pada 2030 akan ada sekitar 23,6 juta orang yang meninggal akibat kardiovaskular.

"Secara global maupun Indonesia, penyakit kardiovaskular masih menjadi pembunuh nomor satu. Penyebabnya sendiri bermacam-macam seperti kolesterol, tekanan darah tinggi, kebiasaan merokok dan gula darah," ujar ahli jantung Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita dr. Renan Sukmawan dalam keterangannya, Minggu (3/6).

Dia menjelaskan, penyakit jantung sangat terkait dengan kolesterol yang mampu menyebabkan ateroklerosis. Ateroklerosis merupakan kondisi yang terjadi saat terbentuk plak pada dinding pembuluh darah arteri. Penumpukan ini mempersempit arteri, sehingga darah sulit untuk mengalir melalui arteri.

Mengendalikan kolesterol dengan memperbaiki gaya hidup yang tidak sehat dapat menangkal penyakit jantung. Terkait dengan gaya hidup, tembakau menjadi sorotan WHO dalam kampanye mengurangi angka penyakit jantung di seluruh dunia karena kebiasaan merokok dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding pembuluh darah arteri.

Menurut Renan, dalam setiap pembakaran rokok akan membentuk zat yang dapat meningkatkan radikal bebas dan beredar dalam darah.

"Radikal bebas dalam darah dapat merusak salah satunya Nitrid Oksid yaitu zat yang terdapat pada sel endhotel di dinding pembuluh darah yang berfungsi menjaga elastisitas pembuluh darah, mempertahankan tekanan darah, membantu aliran ke semua tempat pembuluh darah. Akibatnya pembuluh darah akan berkurang elastisitasnya dan dapat menyebabkan darah tinggi, serta resistensi insulin yang akhirnya mengakibatkan diabetes. Selain itu, akibat lainnya adalah darah mudah mengental dan mudah terjadi plak pada pembuluh darah, serta masuknya kolesterol pada pembuluh darah sehingga terjadinya penyempitan," paparnya.

Selain sebagai penyebab kematian tertinggi, penanganan penyakit jantung tidaklah murah. Terhitung pada 2016 Kementerian Kesehatan mencatat terjadinya peningkatan signifikan terkait pembiayaan penyakit jantung yakni sebesar Rp7,4 triliun dari sebelumnya Rp6,9 triliun di tahun 2015.

"Biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah terus beranjak naik untuk penyakit tidak menular seperti jantung yang kita tahu banyak diantaranya diakibatkan oleh kebiasaan merokok," kata Renan.

Menurutnya, permasalahan mengenai angka perokok bukan hanya terjadi di Indonesia. Beberapa negara maju juga mengalami hal serupa, seperti Korea Selatan. Namun, pada 2018, lebih dari satu juta perokok di Negeri Ginseng berhenti merokok dan beralih ke produk tembakau alternatif, seperti tembakau yang dipanaskan bukan dibakar. Peralihan tersebut diindikasikan karena adanya kesadaran perokok untuk mengonsumsi produk yang lebih rendah risiko.

"Rasanya saat ini kita belum menemukan solusi yang tepat untuk dapat menurunkan angka perokok. Saya rasa dengan melihat pada contoh yang dilakukan oleh negara maju dan bagaimana mereka mengimplementasikan peraturan bagi masyarakatnya ini yang harus digali dan dipelajari lebih dalam lagi," jelas Renan.

"Sekarang ada salah satu cara dengan menggunakan produk tembakau alternatif yang telah terbukti berdasarkan beberapa penelitian bahwa produk ini lebih rendah risiko. Dan saya percaya kita semua harus turut ambil bagian untuk membantu dalam menurunkan jumlah perokok. Hanya sekarang kita butuh dukungan dari para pemangku kepentingan untuk mulai mengerti bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan dan harus segera dicarikan solusinya. Oleh karenanya kami sangat terbuka dan berharap bisa ikut membantu," tambahnya.

Untuk itu, dia berharap pemerintah juga dapat ikut membantu dengan menggali lebih jauh potensi produk tembakau alternatif, salah satunya dengan penelitian.

"Agar tidak ada lagi yang ragu lagi jika pemerintah bersedia duduk bersama untuk mencari solusi dengan menggunakan produk tembakau alternatif," demikian Renan. [ian]



Komentar Pembaca
Nursyahbani Katjasungkana - Derita Rakyat Tergusur (Bag.4)
Nursyahbani Katjasungkana - LGBT (Bag.3)
RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00