Hanura

Pilkada Bupati Kolaka Dinodai Temuan KTP Ganda Fiktif

 JUM'AT, 29 JUNI 2018 , 23:05:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

Pilkada Bupati Kolaka Dinodai Temuan KTP Ganda Fiktif

Ilustrasi/Net

RMOL. Dugaan kecurangan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak pada Tanggal 27 Juni 2018 menimbulkan kericuhan.
Salah Satunya di tempat pemungutan suara (TPS) 13 di Kabupaten Kolaka, Sulawei Tenggara.

Adapun kecurangannya berupa beredar KTP ganda fiktif yang dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) Lurah di Kecamatan Latambaga, Kolaka, Sulteng.

Awalnya, kejadian tersebut terjadi saat kendaraan sepeda motor di geledah oleh masyarakat dan petugas setempat. Saat penggeledahan di temukan ratusan KTP yang belum sempat di edarkan untuk dipergunakan mencoblos.

"Benar telah terjadi pelanggaran pilkada berupa e-KTP ganda yang beredar di hampir keseluruhan TPS kab Kolaka mengunakan KTP. Setelah terjadi penangkapan di serahkan ke panwas. Namun sampai saat ini belum ada berita acara dari panwas kecamatan dan Kabupaten kolaka terkait temuan tersebut," jelas Andi Muhammad Hasgar yang merupakan kuasa hukum nomor urut 2, Asmani Arif-Syahrul Beddu, Jumat (29/6).

Kemudian setelah di temukan keganjilan tersebut, Panwas Kecamatan Latambaga mencoba mendalami kasus yang berkahir pada keributan antar pendukung Paslon.

Hasilnya oknum Lurah Kolakasih, Amrin tertangkap tangan oleh pihak Kepolisian beserta Panwas dan Saksi TPS 13 di Kelurahan Latambaga pada saat pemilihan berlangsung.

Oknum Lurah Kolakasih, Amrin tertangkap tangan oleh pihak Kepolisian beserta Panwas dan Saksi TPS 13 di Kelurahan Latambaga pada saat pemilihan berlangsung.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Panwas belum memberikan keterangan maupun membuat berita acara terkait insiden tersebut. Sedangkan oknum Lurah yang tertangkap tangan tersebut juga tidak dilakukan penahanan.

Andi Muh yang saat itu juga ikut dalam penangkapan oknum Lurah tersebut mengatakan terkait peristiwa itu, seharusnya penyelenggara bertindak dengan tegas dalam hal ini Gakumdu untuk menindaki oknum tersebut.

Namun, terkait temuan pengandaan e-KTP oleh masyarakat jelas akan ada sanksi dan pelaku dapat dijerat sesuai pasal UU Nomor 24 Tahun 2013 dengan hukuman penjara 10 tahun.

Kemudian UU Nomor 12 Tahun 2008 Pasal 115 tentang pemilih ganda atau orang yang menggunakan identitas palsu terancam hukuman pidana penjara. Karena perbuatan pengandaan KTP sangat berpotensi terjadinya kecurangan.

Selain e-KTP ganda temuan money politik juga ditemukan. Salah seorang pemilih mengaku sempat ditawari sebuah amplop berisi uang 150-200 ribu. Namun karena takut amplop tersbut ditolak. Seperti diketahui, dalam Pilkada serentak Kabupaten Kolaka terdapat 2 kertas suara yaitu Paslon Gubernur dan Paslon Bupati.

Sebelumnya diberitakan, dua simpatisan pendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati Kolaka baku hantam di lokasi tempat pemungutan suara (TPS). Kejadian bermula saat salah satu simpatisan tersinggung karena pasangan calonnya dilecehkan dengan kata-kata tidak pantas.

Dari video amatir terlihat anggota simpatisan nomor urut dua diamankan petugas setelah terlibat baku pukul dengan simpatisan nomor urut satu di TPS 01 Kelurahan Dawi-Dawi, Pomala.

Hingga kini, kasus tersebut telah ditangani aparat Polres Kolaka. Sementara Wandy Saputra dan Daeng Arsyad yang merupakan aktor keributan masih menjalani pemeriksaan guna penyelidikan lebih lanjut. [nes]





Komentar Pembaca
Nursyahbani Katjasungkana - Derita Rakyat Tergusur (Bag.4)
Nursyahbani Katjasungkana - LGBT (Bag.3)
RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00