Hanura

Reforma Agraria Makin Nggak Jelas Saja

Setelah 20 Tahun Reformasi

 KAMIS, 12 JULI 2018 , 09:56:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Reforma Agraria Makin Nggak Jelas Saja

Foto/Net

RMOL. Perjuangan mewujudkan reforma agraria dan kedaul­atan pangan masih panjang. Penguatan gerakan rakyat hingga munculnya sejumlah regu­lasi, dinilai belum cukup untuk mensejahterakan rakyat, khusus­nya petani.
Hal ini diingatkan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, dalam peringatan ulang tahunnya ke-20 SPI 8 Juli lalu. Bersama gerakan rakyat lainnya, aku Henry, pihaknya telah mendorong perjuangan reforma agrarian dan kedaulatan pangan menjadi program prioritas pemerintah.

Sejauh ini, SPI berhasil mem­perjuangkan, mendistribusikan dan mempertahankan tanah per­tanian kepada para anggotanya. Juga mencetak kader-kader agroekologi, dan mempraktek­kan pertanian agroekologi di berbagai wilayah anggota SPI.

"SPI bersama gerakan rakyat lainnya juga berhasil mendorong pengesahan sejumlah undang-undang," kata Henry.

Selama 20 tahun terakhir, SPI menjadi organisasi perjuangan yang terdepan dalam melawan neoliberalisme. SPI menentang kehadiran rezim perdagangan bebas di bawah World Trade Organization (WTO), dan per­janjian-perjanjian perdagangan regional lainnya yang memak­sakan perdagangan bebas di dunia.

"Pertemuan tahunan World Bank di Bali pada 10 – 12 Oktober 2018 mendatang, lebih baik tidak usah dilaksanakan. Karena akan membuat Indonesia se­makin terjerat genggaman World Bank dan IMF," imbuhnya.

Henry menilai, belum ber­hasilnya Indonesia menjalankan reforma agraria dan kedaulatan pangan, disebabkan tekanan negara-negara industri, lembaga-lembaga keuangan internasional, serta persekongkolan korporasi-korporasi dunia.

"Demikian juga dengan tidak terselesaikannya konflik-konflik agraria, dan terjadinya peram­pasan-perampasan tanah rakyat dan kriminilisasi pejuang petani akhir-akhir ini," sambungnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi berpesan, di era modern seka­rang petani harus terorganisasi layaknya korporasi. "Saya selalu menyampaikan, petani jangan jalan sendiri-sendiri. Buatlah kelompok tani, gabungan kel­ompok tani," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, untuk men­jadi kekuatan besar, kelompok petani harus lebih besar lagi. Kelompok besar gabungan kel­ompok tani seperti itu namanya korporasi petani. ***


Komentar Pembaca
Nursyahbani Katjasungkana - Derita Rakyat Tergusur (Bag.4)
Nursyahbani Katjasungkana - LGBT (Bag.3)
RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00