Hanura

Sempit Terhimpit, Sesak, Mati

Narasi Menyempitnya Tanah Petani Tobelo Dalam

 SENIN, 20 MARET 2017 , 13:02:00 WIB

Sempit Terhimpit, Sesak, Mati

Ilustrasi/Net

KAMI Orang Tobelo Dalam, Bukan Togutil Suku Tobelo Dalam oleh khalayak umum disebut “Togutil”.
Kata itu berasal dari kata “gutili”, yang dalam bahasa Tobelo artinya“kotor”. Dengan maraknya masyarakat pendatang di tahun 1980-an, semakin sering masyarakat Tobelo Dalam dipanggil “Togutil”. Sejak saat itu, orang Tobelo Dalam yang bermukim di wilayah-wilayah pesisir enggan dipanggil dengan sebutan “togutil”.

Penyebutan orang Tobelo Dalam sebagai suku Togutil pun ditemui di dalam naskah ethnografi di tahun 1981-1986. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa orang Tobelo Dalam telah mendiami pedalaman halmahera dengan ciri khas berbahasanya adalah bahasa Tobelo.
Taylor (1990: 13,19) menjumpai kenyataan yang sama dalam perjalanannya di pedalaman Halmahera Timur (Wasile) pada akhir tahun 1970an dan awal tahun 1980an. Dari karakter bahasa inilah, orang Tobelo Dalam termasuk masyarakat yang berbicara dalam satu jenis bahasa (monolingual) yaitu bahasa tobelo.

Bahasa Tobelo digunakan oleh orang-orang tobelo umumnya, baik yang tinggal di daerah Kecamatan Tobelo maupun di sepanjang Teluk Kao (tobelo boing) serta daerah-daerah lain yang tersebar di Halmahera. Walaupun dalam aspek bahasa tersebut terdapat  perbedaan,namun hal itu tidak terlalu mendasar.

Voorhoeve (1983: 18) menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh orang Tobelo Dalam merupakan salah satu dialek dari bahasa tobelo yang berkembang di pedalaman Halmahera. Sedangkan Hueting (1908) dan Salzner (1960) menyebut adanya perbedaan bahasa tobelo dalam dengan bahasa Tobelo umumnya karena dipengaruhi perbedaan kebudayaan Suku Tobelo Dalam dengan suku-suku lain (dikutip dari Taylor, 1990: 13).

Namun, Taylor tidak bersepakat dengan pandangan Hueting dan Salzner. Karena menurut hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Menurut pendapat para ahli bahasa, bahasa tobelo dalam dengan sembilan bahasa yang lain (Ternate, Tidore, Sahu, Tobaru, Loloda, Galela, Module, Pagu, Makian Barat) termasuk dalam satu kelompok bahasa Nonaustronesia. Wilayah penyebaran kelompok-kelompok ini meliputi daerah Halmahera Utara kearah Timur Halmahera hingga di sebahagian daerah Papua Bagian Utara. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diasumsikan bahwa orang tobelo dalam dan tobelo memiliki kesamaan ciri-ciri kebudayaan yang cukup mendasar.

Kesamaan budaya dan bahasa (dengan perbedaan yang tidak terlalu mendasar), sebagian orang Tobelo Dalam yang telah hidup di pesisir tidak mau dipanggil dengan sebutan togutil.

Terkait dengan kesamaan tersebut, dalam tulisan van Fraasen (1980: 125) dapat diikuti dari keterangan de Jonge (1909) yang soal kesamaan asal-usul orang Tobelo Dalam dengan orang Tobelo lainnya. De Jonge menyatakan bahwa berdasarkan tradisi lisan setempat bahwa leluhur orang Tobelo Utara, orang Tobelo Selatan (pesisir kao dan tobelo boing), orang Modole dan Orang Tobelo Dalam, dahulunya tinggal bersama di sekitar Telaga Lina yang terletak di wilayah kecamatan Tobelo dan Kao.

Ditambahkan di dalam keterangan tersebut, pada waktu itu orang Tobelo Dalam adalah penduduk di salah satu kampung dari delapan buah kampung yang ada di sekitar telaga lina.

Dari penelitian yang dilakukan selama ini, dapat dikemukakan bahwa di pedalaman halmahera, sejak lama telah dikenal ada kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal di dalam hutan. Tak terkecuali Suku Tobelo Dalam. Hal ini diperkuat dengan Masinambouw (1972), adanya kelompok masyarakat yang tinggal di pedalaman halmahera, yang keseharian hidupnya berburu (Babi, Rusa) dan Meramu (Sagu) sebagai makanan pokok untuk menopang kehidupan sehari-hari. Umumnya mereka tinggal dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, dan sebagian telah tinggal di wilayah pesisir atau pantai.

Orang Tobelo Dalam dan Hutannya
Tobelo Dalam adalah suku asli yang menjadi tamu di negeri sendiri”,pengamat budaya Joko Su’ud Sahar dalam tulisannya “Suku Asing dan Terasing”

Enam puluh tahun sudah kita merdeka, kemerdekaan yang panjang itu pula kita menyisahkan penyesalan, tak hanya karena taraf hidup rakyat tidak kunjung membaik. Tetapi juga masih banyak saudara kita yang hidup terasing dinegerinya sendiri.Mereka asing bagi kita dan kita asing bagi mereka, seperti orang-orang tobelo dalam yang ada di hutan Halmahera”. Walaupun mereka oleh sebagian orang menganggap mereka primitif, terasing. Bahkan pemerintah (Dinas Sosial) menyebut mereka sebagai suku tuna budaya, terasing. Stereotipe ini tidak mengenakkan bagi masyarakat Tobelo Dalam yang sudah bermukim di pesisir.

“Seakan-akan kami orang tobelo dalam ini orang kotor, mungkin bagi saudara-saudara yang masih di hutan tidak mempermasalahkan penyebutan ini. Tapi kami yang telah tinggal di pesisir ini pasti merasa panggilan yang menjelekkan,” ungkap Eliyeser Huhutu, salah seorang masyarakat adat tobelo dalam.

Orang Tobelo Dalam hidup dengan menghargai alam. Alam dipercaya sebagai rumah tempat bernaung, tempat hidup dan menghidupi. “Tempat berburu, disinilah kami hidup,” ulas Madiki, kepala suku Tobelo Dalam dari Desa Dodaga. Bagi orang Tobelo Dalam secara konseptual hutan (alam) bukan hanya mengandung nilai-nilai ekonomi, tetapi sekaligus juga nilai-nilai sosial dan spiritual.

Hutan merupakan tumpuan dari pandangan dan orientasi kosmologi orang Tobelo Dalam yang bermuara pada sistem klasifikasi bagi dua, secara alami sebagai dasar atas hubungan timbal balik antara manusia dengan sesama maupun dengan alam sekitar dan dengan dunia supranatural dalam realitas kehidupan sehari-hari.  Dahulu setiap orang Tobelo Dalam meninggal, tidak pernah dikubur, kami membuat dodego (tempat dari kayu tanpa penutup). Setelah itu mayat tersebut di letakkan di atasnya, sebelum berlalu dari tempat itu, terlebih dahulu kami menanam sebuah pohon pengganti orang yang meninggal. Berselang berbulan-bulan bahkan tahun, ketika kembali ke tempat itu, yang diperhatikan adalah pohon yang kami tanam tersebut sambil berkata andaikan “dia” tidak meninggal, maka dia telah besar seperti pohon itu.

Saat ini tradisi itu tidak lagi dipraktekkan. Orang Tobelo Dalam yang meninggal (mati), disemayamkan kemudian dikubur dalam tanah. Terakhir tradisi setiap warga yang meninggal dan diletakkan di atas dedego atau bahasa tobelo dalamnya Deru Iye dilakukan sekitar tahun 1986, yaitu salah satu warga bernama Jaga Munana yang meninggal saat ini di letakkan di atas dodego atau deru iye.

Perubahan tradisi orang meninggal ini berdasarkan tuturan beberapa tokoh di Tobelo Dalam disebabkan karena masuknya budaya luar dan juga setelah pemekaran daerah. Selain itu juga karena berkembangnya agama-agama samawi.

Migrasi, ‘Dirumahkan’ dan Transmigrasi
Sejak ratusan tahun yang lalu lembah Wasile, yang sekarang masuk ke dalam administrasi Kabupaten Halmahera Timur, bermukim sekelompok masyarakat. Mereka adalah orang Tobelo Dalam Dodaga, yang  mulanya dipanggil dengan sebutan “Tugutil”.

Belum diketahui pasti kapan pertama kalinya orang Tobelo Dalam Dodaga mendiami wilayah Wasilei. Namun berdasarkan hasil Focus Group Discussion AMAN dan masyarakat Dogaga terkait Pemetaan Partisipatif, komunitas Tobelo Dalam Dodaga merupakan bagian dari Hoana Boeng di Halmahera Utara. Mereka  migrasi ke wilayah Halmahera Timur pada zaman Belanda. Hal ini dikarenakan adanya penarikan upeti oleh sultan dari masyarakat.

Mereka yang bermigrasi ke Halmahera Timur merupakan kelompok-kelompok yang tidak setuju pada kebijakan sultan, dan akhirnya melarikan diri. Ketika tiba di wilayah Halmahera Timur, mereka hidup berkelompok-kelompok dan nomaden. Karakter mereka yang hidup nomaden masih  meninggal yang dilihat dari persebaran orang Tobelo Dalam di beberapa titik di wilayah Halmahera Timur.

Sekitar tahun 1800-an, beberapa kepala keluarga suku Tobelo Dalam Dodaga turun ke wilayah pantai dan membentuk sebuah kampung. Sebelumnya kepala keluarga hidup dan bertempat tinggal tersebar di lima titik. Kampung tempat mereka hidup dulu, sekarang dinamakan sebagai kampung tua. Kampung baru yang didirikan dinamai Dodaga, yang berarti tongkat. Inilah asal mula dari kampung Dodaga yang sekarang.

Diperkirakan wilayah adat masyarakat Tobelo Dalam Dodaga sekitar Teluk Kao hingga wilayah gunung Uni-Uni. Mereka telah mendiami wilayah adatnya sejak ratusan tahun lalu sampai saat ini.  Hasil pemetaan partisipatif di tahun 2013-2014 menunjukan luas wilayah adat komunitas Tobelo Dalam Dodaga kurang lebih 26,482,21 hektare.

Sekitar tahun 1989, Dinas Sosial menginisasi 50 KK masyarakat Tobelo Dalam lainnya dibangungkan rumah dan dikonsentrasikan ke kampung Dodaga. Namun beberapa waktu selanjutnya mereka kembali lagi ke hutan. Karena pada itu terjadi wabah muntaber di kampung, serta kondisi rumah yang panas waktu siang dan ribut pada saat hujan. Ini berbeda dengan budaya mereka membangun rumah, yang atapnya dari daung rumbia, jenis rumah panggung supaya sewaktu - waktu kalau pada malam hari mereka merasa dingin, bisa membuat api di bagian bawah juga bagian bawa rumah panggung bisa diperuntukan untuk hewan piaraan mereka seperti anjing, lalu rumah milik mereka tidak berdinding supaya sewaktu - waktu ada musuh yang datang, dari kejauhan sudah melihat musuh tersebut.

Program “merumahkan” orang Tobelo Dalam pun dilakukan kembali di tahun 1997 oleh Dinas Sosial.  Mereka yang dirumahkan tidak dikonsentrasikan di kampung Dodaga, tapi membentuk satu dusun di sebelah utara Dodaga. Dusun itu disebut Dusun Tukur-tukur. Selanjutnya pada tahun 2004, beberapa KK kembali berhasil dirumahkan oleh pemerintah. Program “merumahkan” ini kemudian membentuk satu dusun kecil dekat jalan trans Halmahera menuju Buli. Dusun ini bernama Titipa.

Program transmigrasi masuk ke wilayah adat orang Tobelo Dalam Dodaga di tahun 1979-1980an. Hal ini bermula, beberapa orang asing datang ke wilayah dan masuk ke dalam hutan milik masyarakat Tobelo Dalam Dodaga. Orang asing itu  membawa buldoser, yang kala itu warga merasa asing dengan peralatan-peralatan tersebut. Pohon-pohon di hutan orang Tobelo Dalam Dodaga diberi patok dan tanda berupa cat. Selain itu, mereka juga memulai aktifitas penggusuran. Belakangan diketahui mereka adalah orang-orang pemerintah. Hutan yang dibuka itu sekarang menjadi daerah transmigrasi subaim.

Sejak pohon hutan mereka ditandai oleh pemerintah, masalah pun bermunculan. Orang Tobelo Dalam Dodaga mulai tidak merasa nyaman atas kehadiran orang-orang pemerintah yang mengatasnamakan negara tersebut. Mereka membela hutannya yang dibuka. Di seberang hutan, orang-orang Tobelo Dalam telah bersiap-siap dengan busur panah dan tumbak. Mereka hendak menghalau keluar orang suruhan pemerintah.

Lalu, untuk menenangkan orang Tobelo Dalam Dodaga, pemerintah membuat penawaran dengan menukar hutan yang dirusak dengan beras berkarung-karung (sak). Bukan hanya beras tetapi juga pakaian yang digunakan untuk membujuk masyarakat Tobelo Dalam Dodaga agar tidak lagi melakukan perlawanan. Alhasil, strategi pemerintah dengan mendatangkan beras itu berhasil membujuk masyarakat Tobelo Dalam Dodaga. Itu adalah awal masyarakat Tobelo dalam Dodaga mulai mengenal dan mengonsumsi beras dari luas. Karena sebelumnya, masyarakat Tebelo Dalam Dodaga mengenal serta mengonsumsi beras dari hasil padi ladangnya, dan sagu dari lumbungnya.

Dahulu, wilayah adat orang Tobelo Dalam dikenal sebagai lumbung sagu untuk penduduk Halmahera. Hal itu ditandai dengan sebuah areal pohon sagu yang luasnya kurang lebih 5.000 hektare. Areal itu oleh masyarakat adat Tobelo Dalam Dodaga dikenal sebagai Dusun Raja. Namun, ribuan hektare pohon sagu itu telah dimusnahkan demi kepentingan transmigrasi. Dengan musnahnya ribuan lumbung sagu, Masyarakat Adat Tobelo Dalam pun beralih mengomsumsi beras, tidak lagi bukan sagu. Sekarang identitas sagu sebagai pangan lokal pun kini sirna.

"Hutan adat di wilayah kami dibabat habis untuk kepentingan transmigrasi, saat pemerintah ingin memasukkan transmigrasi di wilayah ini, tidak pernah kami dikonsultasikan, sedikit pun tidak! Hanya beberapa orang yang diajak dengan diberi upah untuk membantu memasang titik areal transmigrasi," ungkap Madiki, kepala suku Tobelo Dalam Dodaga.

Masyarakat Adat Tobelo Dalam menguasi lahan sagu tersebut secara komunal, siapa saja bisa mengambilnya untuk makan sehari-hari. Sagu yang telah menjadi makanan pokok  orang Tobelo Dalam kini berangsur telah hilang, pola komsumsi diubah dengan cara pandang beras lebih baik dari sagu. Padahal bukan hanya orang Tobelo Dalam, tetapi umumnya orang yang hidup di Kepulauan Maluku mengkomsumsi sagu sejak dahulu kala. Sagu memiliki potensi karbohidrat lebih tinggi. Sehingga, tak jarang melihat orang-orang Maluku itu kuat secara fisik. Hari demi hari berganti, penguasaan lahan untuk kepentingan sawah dan pemukiman terus berlanjut. Masyarakat adat pun tak tinggal diam, penolakan mulai bergolak untuk menghambat proses pembukaan lahan baru.

Suatu hari Bodik, lelaki Tobelo Dalam Dodaga, membunuh seorang warga transmigrasi. Ia naik pitam karena orang transmigran itu membuka lahan persawahan pada jalan setapak atau jalan kebun menuju ke hutan, tempat mencari makan dan berburu. Kejadian itu nyaris membuat Bodik dibunuh oleh Sungkono. Dengan bantuan istrinya, Bodik berhasil membunuh Sungkono. “Sebelumnya kami telah memperingati mereka untuk tidak membuka sawah di tempat yang menjadi jalan kami untuk ke kebun, hanya saja Sungkono (lelaki yang dibunuh bodik) melakukan perlawanan. Sehingga demi harga diri saya harus membunuhnya,” ujar Madiki menirukan tutur kemarahan Bodik.

Beberapa waktu kemudian peristiwa pembunuhan itu direspon pemerintah dengan mendatangkan Babinsa. Kehadiran aparat negara itu dalam rangka pengawalan aktifitas  PT. Chandra Raya dan PT. Muriah Karya menggusur hutan orang Tobelo Dalam Dodaga. Kedua perusahaan telah diberikan kewenangan oleh pemerintah untuk melakukan penggusuran.

Selama dua tahun, dari 1980 hingga 1982, Babinsa mengawal pembabatan areal sagu milik warga Tobelo Dalam Dodaga. “Kami masyarakat Tobelo Dalam, khusus di Dodaga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kami sadari jika akan melakukan perlawanan yang sengit tentu kami akan menjadi korban. Karena yang kami hadapi adalah aparat Negara,” kenang Madiki.

Sempat saat itu ada seorang warga bernama Maihi Baekole melakukan perlawanan. Ia hendak menumbak atau menikam, dengan tumbak yang sering digunakan untuk berburu di hutan, seorang operator buldoser. Tikamannya meleset dan mengenai badan buldoser. Sejak itu, warga hanya pasrah dan melihat dusun sagu mereka dibongkar untuk kepentingan transmigrasi. Hanya saja, setelah pembukaan lahan selesai, pada tahun 1983-1984, masyarakat transmigrasi dari Jawa mulai didatangkan pemerintah ke Subaim/Wasile. Sejak  saat itu warga transmigran mulai bermukim di sana dan beraktivitas.

Setelah tanah adat direbut negera, situasi berlanjut yakni warga transmigran memperluas lahannya. Ketika masyarakat adat Tobelo Dalam mengetahui pergi ke kebun, mereka mengetahui bahwa sebagian lagi wilayah atau kebun mereka telah dikuasai transmigrasi . Sebagian orang Tobelo Dalam hanya bisa pasrah, sebagian melepas dan menjual tanah pertanian dan wilayahnya dengan harga murah.

Tanahnya dijual baik kepada pemerintah maupun warga transmigrasi dengan harga 200-300 ribu per dusun, yang kurang lebih satu dusun seluas satu hektar.Di situlah awal ruang hidup masyarakat Adat Tobelo Dalam semakin sempit. Ditambah lagi oleh pemerintah dengan kebijakan pembukaan lahan dua yang semakin menyempitkan ruang gerak masyarakat dalam beraktivitas.

Dahulu sebelum hadir transmigrasi, tempat yang disebut lembah Subaim menjadi tumpuan hidup masyarakat adat Tobelo Dalam. Di lembah itulah,  mereka bercocok tanam, berburu hewan maupun meramu sagu. Semua itu dilakukan untuk kebutuhan pangan sehari - hari. Namun, kini menjadi lembah itu berubah menjadi lahan transmigrasi kini. Lahan untuk pangan mulai menyusut.  

Penguasaan ruang oleh transmigrasi tidak saja menghilangkan hak penguasaan atas tanah, tapi juga tradisi mereka seperti rica, sayur dan kebutuhan dapur lainnya. Dulu, semua kebutuhan itu bisa diperoleh dengan saling memberi (baku Kase) antarsesama warga masyarakat Tobelo Dalam. Kini semua orang hidup individualistik, tak lagi memperdulikan sesama.

Penguasaan tanah dan diskriminasi pun berlanjut. Tentu yang menjadi aktor diskriminasi tak lain adalah pemerintah. Suatu hari, Feni Huhutu bersama perempuan Tobelo Dalam Dodaga berjualan di pasar Transmigrasi Subaim. Namun oleh pemerintah mereka tidak dibolehkan berjualan di tempat yang layak.Tempat itu hanya dikhususkan bagi perempuan transmigran.

Feni dan perempuan Tobelo Dalam Dodaga lainnya hanya diam dan termenung saat petugas pengelola pasar mengatakan tempat itu hanya boleh ditempati oleh mereka, seraya menunjuk ke arah wanita - wanita paruh baya berkulit putih. Mereka pun hanya bisa menumpuk bebatuan sebagai alas untuk meletakkan dagangan mereka. ”masak dapa tampa yang disediakan pemerintah lalu torang tarada. Torang hanya kumpul batu jadi pengalas dagangan, sedangkan dorang di atas semen,” tutur Feni, perempuan beranak dua yang tinggal di dusun Tukur-tukur.

Masyarakat Adat Tobelo Dalam dibuat memiliki ketergantungan yang lebih besar kepada penduduk transmigrasi mulai dari masalah pangan sampai mata pencaharian untuk memperoleh uang. Mereka dikonstruksikan demikian supaya menjadi terus miskin di atas tanahnya sendiri.

Adigung Hutan Negara di Wilayah Adat
Masyarakat Adat Tobelo Dalam menyebut dirinya O’Hongana Manyawa. Orang yang hidup di hutan, demikian artinya. Mereka sejak ratusan tahun yang lalu telah mendiami hutan wilayah Dodaga. Mereka mendiami hutan yang menjadi rumah tinggal mereka.

Pada tanggal 18 Oktober 2004 2004, Pemerintah lewat Menteri Kehutanan menerbitkankan Surat Keputusan dengan Nomor: 397/Menhut-II/2004. Surat tersebut adalah surat tentang Penetapan Taman Nasional Blok Aketajawe dengan luas 77.100 hektare dan Blok Lolobata seluas 90.200 hektare. Total dua blok itu seluas 167.300 hektare. Ada beberapa zona dalam Taman Nasional tersebut, antara lain zona inti, pemanfaatan, rehabilitasi, rimba, tradisional dan cadangan.Hutan Adat Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga yang dikapling oleh Taman Nasional seluas 4.182,181 hektare. Ini diketahui berdasarkan hasil overlay peta wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga dengan Peta Kawasan Hutan dari Kementerian Kehutanan.

Hadirnya Taman Nasional telah menjadi keresahan Masyarakat Adat Tobelo Dalam, khususnya mereka yang menggantungkan hidup di hutan. Bukan saja Hutan Adatnya di kuasai tapi nilai sosial dan supranatural lainnya turut tergerus, belum juga kehadiran Taman Nasional tersebut tanpa konsultasi bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Kami baru tahu Hutan Adat kami dikuasai Negara dengan Penetapan Taman Nasional setelah memasuki hutan untuk berburu dan mencari hasil hasil hutan lainnya, [seperti] damar, gaharu, dll”, demikian cerita Om Kasiang, Tetua Adat yang sudah ujur usianya.    

Mereka tidak diperbolehkan berburu, meramu dan mecari hasil hutan lainnya di sekitar Taman Nasional. Padahal dengan berburu, meramu dan mengakses hutan adalah bagian dari keberlanjutan hidup orang Tobelo Dalam Dodaga. Kesulitan untuk akses hutan, juga dirasakan oleh kelompok yang ada di Tayawi, Akelamo (Walaino) dan Akejira. Sejak saat itu Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga tak hanya kehilangan hutan dan wilayah Adatnya tapi juga kehilangan akses atas keduanya.

Selain Taman Nasional, Pemerintah lewat Kementerian Kehutanan juga menetapkan kawan hutan yang masuk ke dalam wilayah adat masyarakat Tobelo Dalam di antaranya, Hutan Lindung seluas 5951,643 hektare, Hutan Produksi Terbatas seluas 8134, 123 hektare dan HPK seluas 139, 697 hektare. Padahal kawasan-kawasan itu tak semuanya hutan. Dalam kawasan ada kebun masyarakat bahkan pemukiman. Dusun Titipa berdasarkan peta kementrian Kehutanan masuk ke dalam kawasan Hutan Produksi terbatas.

Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga dilarang oleh Petugas Kehutanan untuk mengakses sumber ekonomi berupa Damar, Gaharu. Selain itu para perempuan-perempuan Tobelo Dalam di larang mengases hutan, padahal mereka hanya sekedar untuk memungut sayur dan berkebun. Ini yang kemudian membuat semakin sempit  ruang akses Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga.

Yusuf Patani, Warga Titipa, pria energik dan suka lelucon mengurai suatu saat didatangi Petugas Kehutanan dari BPKH VI Manado. Petugas itu juga menemui beberapa warga Adat Tobelo Dalam. Ia meminta warga untuk menanam pohon dengan jenis bermacam-macam, seperti pohon durian, nangka, sengon, benuang, pala, nyato dll. “kami didatangi salah seorang petugas kehutanan dan meminta kami bersama-sama menanam pohon dan pohon itu akan milik masyarakat titipa”, kata Yusuf Patani.

Penanaman pohon itu pun dilakukan atas inisiatif Yusup Patani dkk. Mereka menanam pohon tersebut kurang lebih 500 meter dari tempat mereka bermukim. Namun setelah pohon itu menjadi besar, Petugas Kehutanan melarang masyarakat mengakses hutan dilokasi penanaman pohon tersebut.

Masyarakat Adat Tobelo Dalam baru tahu akhir-akhir ini ternyata hutan mereka telah menjadi kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kehutanan. Selama ini Masyarakat Adat Tobelo Dalam hanya tahu bahwa sejak zaman Nenek Moyang (ratusan tahun yang lalu) wilayah Taman Nasional dan Kawasan Hutan itu bebas mereka akses untuk kepentingan ekonomi dan hidup sehari-hari.

Keberadaan Taman Nasional dan penetapan kawasan hutan, membuat sering kali masyarakat saat ke hutan dihalau oleh petugas. “Suatu saat, saya dan anak saya berburu babi dan rusa di hutan.Kebetulan dodeso (jeratan tali berupa perangkap) anak saya terperangkap seekor rusa. Saat ingin membuka jeratan dan menguliti rusa tersebut, datanglah seorang [laki-laki] yang kami ketahui adalah petugas Kehutanan. Ia meminta kami melepas hasil dodeso kami, dan juga menyampaikan untuk tidak lagi berburu dan mengakses hutan di sekitarnya” ujar Om Kasiang, pria tua rentah yang suka lelucon itu.

Situasi itu yang sama juga dialami oleh Perempuan Adat Tobelo Dalam. Seringkali para perempuan masuk ke hutan untuk memetik sayur, jamur dan berkebun. Kegiatan itu dilakukan para perempuan saat suami-suami mereka pergi berburu dan mencari gahura selama berbulan-bulan di hutan. Setiap kali itu pula mereka harus berhadap-hadapan dengan warga lokal lainnya maupun petugas kehutanan di hutan.

Feni Huhutu mengisahkan, petugas kerap kali menghadang saat bersama teman-temannya masuki hutan. Petugas meminta mereka untuk tidak mengakses hutan. Padahal selama suami mereka di dalam hutan, para perempuanlah yang menjadi tumpuan keluarga. Feni mengisahkan juga sering petugas menyambangi warga Masyarakat Adat Tobelo Dalam untuk mengecek aktifitas keseharian mereka. Apabila ketahuan ada yang masuk hutan, mereka kena marah oleh Petugas Kehutanan.

Tambang pun Melenggang Datang
Belum juga upaya penyempitan ruang hidup Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga oleh Negara melaluit ransmigrasi dan Taman Nasional , wilayah adat mereka kian dipersempit dengan adanya tambang. Terdapat dua perusahaan Pertambangan yang hadir di wilayah adat orang Tobelo Dalam Dodaga. Dua Perusahan Tambang  tersebut adalah PT. Roda Nusantara (Eksplorasi) dan PT. Indo Bumi Nikel (Operasi Produksi).

Kehadiran dua perusahan tambang tersebut memperjelas tumpang tindih peta wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga dengan peta izin tambang oleh pemerintah. Berawal pada tahun 2007, ketika masyarakat adat Tobelo Dalam Dodaga memasuki hutan. Di sana, mereka melihat karyawan perusahaan yang sedang melakukan pengeboran di dalam hutan adat masyarakat adat Tobelo Dalam Dodaga.

Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga juga mengetahui ada perusahaan tambang dari papan nama perusahaan. Papan yang dipasang di bagian selatan wilayah adat, menyebutkan proses pinjam pakai kawasan hutan yang di terbitkan oleh Kementerian Kehutanan. Dari situlah warga Tobelo Dalam mengetahui ternyata wilayah mereka juga dimasuki perusahaan pertambangan.

Kabarnya, Perusahaan hanya melibatkan beberapa warga transmigrasi yang wilayah transmigrasinya dekat dengan area konsesi. Padahal sebagian wilayah konsesi dua perusahaan tersebut masuk dalam wilayah adat masyarakat adat Tobelo Dalam Dodaga. Semestinya perusahaan wajib menyampaikan informasi kepada pemilik wilayah Adat dan meminta persetujuan dari masyarakat adat tersebut.

Hadirnya dua Perusahan tersebut dapat memicu konflik antarwarga pemilik masing-masing wilayah. Pernah warga Desa Dodaga dan Desa Subaim saling klaim wilayah yang masuk ke dalam area konsesi. Dodaga adalah bagian dari Masyarakat Adat Tobelo dalam, dan Subaim juga memiliki wilayah adatnya sendiri. Konon, ketegangan itu disebabkan karena perebutan fee dari dua Perusahaan tersebut.

Luas wilayah Adat Tobelo Dalam Dodaga yang dikuasai oleh PT. Indo Bumi Nikel seluas 11 hektar, dari luas konsesi perusahaan kurang lebih 11.000,32 hektar.

Diketahui juga berdasarkan peta wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga, area yang dikuasai perusahaan di sekitar Kali Meja, salah satu sungai yang mengalir di wilayah adat tobelo dalam dodaga. Sedangkan PT. Roda Nusantara, dari luas konsesi Perusahaan 3.121 hektare, 695, 167 hektare luas wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga masuk ke dalam konsesi. Artinya, 22 persen wilayah konsesi perusahaan telah mengkapling wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga.

Untuk PT. Roda Nusantara, izinnya diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur sejak tahun 2009. Masyarakat adat Tobelo Dalam Dodaga juga tak pernah tahu kehadiran Perusahaan ini. Masyarakat Adat Tobelo dalam Dodaga mengetahuinya setelah menyelesaikan peta wilayah adat Tobelo dalam Dodaga. “Kami tidak pernah merusak hutan, justru hutan adalah rumah dan tempat kami mencari hidup. Seharus kami bertanya, antara kami dan perusahaan, siapakah yang di sebut perusak hutan?!”, ujar Alonsios Sinde, warga Tobelo Dalam Dodaga.

Perusakan hutan dan pencemaran lingkungan mungkin saat ini belum terlihat, akan tetapi ke depan dipastikan sungai-sungai yang saat ini tampak bersih dan oleh Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga dijadikan tempat mandi dan mencuci, suatu saat akan tercemari oleh aktifitas pertambangan.

Kini, Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga sepertinya hidup di negeri yang bukan diwariskan oleh leluhur mereka. Padahal sejak ratusan tahun lampau, wilayah tersebut dikuasai oleh nenek moyang Masyarakat Adat Tobelo Dalam Dodaga. Sebagaimana di kisahkan oleh Eliyiser Huhutu, seorang Warga Adat Tobelo Dalam Dodaga, bahwa mereka adalah generasi kelima yang hidup di wilayah Adat Tobelo Dalam Dodaga.[***]


Mahyudin Rumata

Riset penulis bersama AMAN dan Sayogyo Institute saat Inkuiri Nasional Komnas HAM Tentang Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Wilayahnya di Kawasan Hutan

Penulis saat ini Ketua Pengurus Besar  Himpunan Mahasiswa Islam Bidang Agraria dan Kemaritiman



Komentar Pembaca
Indonesia Harus Belajar Dari Anjloknya Lira Turki
Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

, 14 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Hapus Ambang Batas Nyapres

Hapus Ambang Batas Nyapres

, 08 AGUSTUS 2018 , 14:37:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00