Hanura

Butuh Pendekatan Kemitraan Untuk Kesejahteraan Papua

 SELASA, 12 JUNI 2018 , 21:38:00 WIB | LAPORAN:

RMOL. Pembangunan Papua dapat berjalan maksimal jika memiliki kolaborasi, sinergi dan kemitraan antara pemangku kepentingan.
Apalagi, wilayah Papua memiliki potensi kekayaan alam yang melimpah, baik pertambangan, pertanian, kehutanan, sektor kelautan dan perikanan.

"Dalam membangun Papua, pendekatan kemitraan ini menekankan masyarakat Papua yang harus berdaya, karena tidak mungkin orang lain yang membuat masyarakat Papua sejahtera. Rakyat Papua harus berdaya dan orang lain membantu sebagai mitra," papar Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Apolo Safanpo dalam siaran persnya, Selasa (12/6).

Pandangan tersebut disampaikan Apolo pada talkshow berjudul "Kemitraan Multi Pihak untuk Pembangunan Berkelanjutan di Papua" yang diselenggarakan Universitas Cenderawasih bekerjasama dengan lembaga Partnership-ID dan didukung PT Freeport Indonesia beberapa waktu lalu.

Acara yang dilaksanakan di Auditorium Rektorat Universitas Cenderawasih tersebut dihadiri oleh pemangku kepentingan pembangunan Papua dari berbagai sektor dan instansi/lembaga. Mulai dari pemerintah daerah, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Papua, akademisi dan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta organisasi masyarakat sipil (CSO).

Pada kesempatan itu, pendiri Partnership-ID, Erna Witoelar yang memberikan keynote speech bahwa pembangunan Papua akan mendapatkan manfaat dari kemitraan. Khususnya multi-pihak berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau yang dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

"Sekarang mungkin belum begitu terlihat, namun ke depan akan makin banyak aspirasi dari Papua mewarnai pelaksanaan SDGs dengan banyaknya kemitraan yang dijalankan dengan baik di sini," tutur mantan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah ini.

Erna yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Millenium Development Goals (MDGs) Asia Pacific ini mengajak seluruh pihak yang berkepentingan di Papua, untuk bekerjasama dan berkontribusi terhadap pencapaian tujuan pembangunan tersebut.

Sebagai upaya untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi lingkungan hidup, dan memastikan semua orang menikmati kemakmuran dan kedamaian.

"Pembangunan di Papua merupakan tanggung jawab semua pihak, mencakup Pemerintah, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, universitas, dan komunitas setempat dan sudah selayaknya ada sinergi dan kemitraan dengan para pihak yang berkepentingan," tegasnya.

Sementara itu, Vice Presiden Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama yang turut memberikan sambutan dalam talkshow tersebut mengamini pesan Rektor Apolo.

Menurut Riza kemitraan yang dijalankan dengan baik adalah modal untuk Papua lebih maju lagi.

"Freeport menyadari bahwa kemitraan sangat penting untuk mendorong kesejahteraan rakyat Papua serta mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang diidamkan," timpalnya.

Riza mengisahkan, saat Freeport pertama kali datang tahun 1967 tidak ada mitra lain yang bisa diajak bekerjasama. Kemudian, Freeport membangun sendiri sesuai apa yang dianggap perlu. Lalu membangun berbagai sarana dan infrastruktur seperti klinik, rumah sakit dan sekolah. Ketika akhirnya mulai ada mitra yang bisa diajak berkolaborasi, mereka pun membangun kemitraan.

"Berdasarkan pengalaman, tanpa peran serta dan partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam program, hasil yang dicapai menjadi tidak maksimal dan berdampak pada efektivitas program," papar Riza.

Sejak lama Freeport Indonesia mengadopsi konsep pembangunan berkelanjutan sebagai bagian integral operasi perusahaan. Menurutnya kontribusi Freeport dimaksudkan menjadi stimulus bagi pembangunan yang berkelanjutan dan bukan sekedar hibah.

Erna Witoelar menegaskan pentingnya pemilihan sektor prioritas dalam menjalankan SDGs. Pemilihan sektor prioritas yang relevan dengan isu dan tantangan yang dihadapi dapat menjadi alternatif solusi terhadap permasalahan yang terjadi.

"Contohnya Freeport yang membangun Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) dengan sukses memilih fokus kemitraan pada sektor pendidikan dan penciptaan lapangan kerja," kata Erna.

Teknisnya, IPN ini bisa dikembangkan kemitraannya. Karena IPN fokusnya menyediakan tenaga kerja yang memiliki skill tinggi yang tidak semuanya harus masuk ke Freeport. Hal itu bisa menjadi fokus prioritas bersama di Papua, karena semuanya mendapatkan keuntungan dengan keberadaan IPN ini.

"Kampus-kampus lain bisa datang ke IPN untuk berkerjasama dan mempercepat kemajuan sumberdaya manusia Papua untuk sektor pertambangan," terang Erna.

Sementara itu, senior Manager Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) Soleman Faluk yang menjadi salah satu pembicara menjelaskan usaha IPN dan Freeport untuk bermitra dengan masyarakat dalam menyiapkan tenaga terampil di sektor pertambangan.

"Kalau kami berjalan sendiri tak akan berjalan maksimal bagi peningkatan SDM. Padahal potensi industri tambang sangat terbuka untuk anak-anak muda Papua. IPN menyambungkan anak didik dengan mitra di lembaga pendidikan formal serta perusahaan-perusahaan yang ada. Umumnya perusahaan-perusahaan ingin orang Papua yang bagus dan disiplin serta memiliki skill yang bagus. IPN tidak hanya mendidik skill peserta didik, tapi juga melakukan pendidikan karakter agar sesuai dengan kebutuhan profesional yang diharapkan oleh perusahaan tempatnya bekerja nanti," terang Soleman.

Soleman menjelaskan IPN adalah lembaga non formal pendidikan yang didirikan tahun 2003 sebagai bagian dari salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam bidang pengembangan SDM Papua. IPN memiliki 16 program atau jurusan dan disertai program pengembangan berbasis  kompetensi. Hingga tahun 2018 total peserta yang diterima dan dikembangkan di IPN sebanyak 4000 siswa.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup yang juga Mantan Rektor Universitas Cenderawasih Balthasar Kambuaya menyampaikan bahwa dalam kemitraan harus memiliki tujuan yang sama.

"Pembangunan Papua yang berkelanjutan tak mungkin dikerjakan oleh satu orang. Namun dalam membangun kemitraan itu harus didasarkan pada rasa saling percaya dan semangat untuk saling menguntungkan. Saya beri contoh di Uncen ini ada ada Freeport Corner. Itu adalah kerjasama yang kami lakukan dengan Freeport atas dasar kemitraan yang memiliki satu tujuan bersama dan mengedepankan kepentingan bersama," terang Balthasar. [sam]



Komentar Pembaca
Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

, 18 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Atraksi Kembang Api

Atraksi Kembang Api

, 19 AGUSTUS 2018 , 05:36:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

, 17 AGUSTUS 2018 , 10:48:00