Hanura

Pilkada Makassar Cermin Elite Politik Dan Pemilik Modal Memaksakan Kehendak

 SELASA, 10 JULI 2018 , 03:17:00 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Pilkada Makassar Cermin Elite Politik Dan Pemilik Modal Memaksakan Kehendak

Foto/Net

RMOL. Ketua Relawan Kotak Kosong (Rewako) Pilwalkot Makassar, Anshar Manalu mengatakan bahwa yang terjadi dalam pemilihan Walikota Makassar merupkan bentuk dari kekuatan elite politik dan pemilik modal yang memaksakan kehendak.
"Jadi yang muncul di sana adalah upaya siatematis yang dilakukan elite politik dan pemilik modal untuk menciptakan calon tunggal," kata Anshar saat ditemui Kantor Berita Politik RMOL, kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (9/7) malam.

Pasalnya, sambung Anshar, pada Pilwalkot Makassar sendiri sebelumnya muncul banyak calon yang menyatakan siap untuk bertarung. Mengingat di Makassar dalam gelaran Pilwalkot sebelumnya ada sembilan pasangan calon.

"Inilah kemudian yang dipaksakan oleh elite politik, agar hanya ada calon tunggal," ujarnya.

Kekuatan elite politik sangat kental, terlihat ketika di tahapan awal mereka mengarahkan dukungan hanya kepada pasangan Munaffri Arifuddin-Rachmatika Dewi (Appi-Cicu). Sehingga, calon yang lain tidak mendapatkan dukungan dari seluruh partai politik yang ada sebagai salah satu persyaratan untuk maju sebagai calon.

"Mereka memborong partai untuk menutup ruang bagi kandidat yang ingin maju," ungkap Anshar.

Tidak hanya itu, intervensi elite politik dan kekuatan modal juga bermain saat calon Walikota Makassar petahana Dany Pomanto, salah satu kandidat terpaksa maju melalui jalur perseorangan setelah delapan partai politik mencabut dukungannya.

"Hingga kemudian dicari-cari persoalan hukumnya, sampai di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang dikuatkan oleh putusan Mahkamah Agung yang menggugurkan pencalonannya (Danny Pomanto)," urai Anshar.

Anshar mengatakan, walaupun kekuatan elite politik dan pemilik modal bersenyawa untuk menciptakan calon tunggal, warga dari Kota Angin Mamiri itu sudah melalukan perlawanan. Hal itu telah tercermin dari hasil beberapa lembaga survei dua bulan kurang sebelum dilaksanakannya pemungutan suara.

"Elektabilitas Appi-Cicu, tidak pernah mencapai angka 20 persen, itu artinya ada 70-80 persen masyarakat Makassar yang memang tidak setuju adanya calon tunggal itu," jelas Anshar.

Dari 15 Kecamatan yang ada, 13 di antaranya dimenangi oleh kotak kosong. Hanya dua Kecamatan yaitu Manggala dan Tamalate. Bahkan di Kecamatan Tamalate itu selisihnya sangat tipis sekitar 200 suara.

“Bahkan Di TPS tempat pak Munaffri mencoblos aja dia kalah,” demikian Anshar.

Berdasarkan rapat pleno hasil perhitungan suara pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar, KPU Makassar menetapkan kotak kosong sebagai pemenang dalam Pilkada Makassar 2018.

Kotak kosong memperoleh suara sebanyak 300.795, sedangkan calon tunggal memperoleh suara sebanyak 264.245. Total perolehan suara Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar mencapai 565.040 suara. Perolehan suara antara kotak kosong dengan calon tunggal sebanyak 36.898 suara.

Perolehan suara kotak kosong memperoleh suara Pilkada Makassar 2018 sebanyak 53,23 persen, dan perolehan suara calon tunggal Appi-Cicu yang diusung 10 partai besar memperoleh suara sebanyak 46,77 persen. [fiq]

Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.156): Menanti Hasil Perburuan SBY
Ketum PP Muhammadiyah Siap Menangkan Prabowo-Sandi
720 Pengacara Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:17:00

Marching Band TNI AL Di Rusia

Marching Band TNI AL Di Rusia

, 15 SEPTEMBER 2018 , 12:50:00

Cium Tangan Kiai

Cium Tangan Kiai

, 21 SEPTEMBER 2018 , 22:41:00